Kudus Tuan Rumah Workshop Revitalisasi 100 SMK Bidang Tata Busana Nasional

oleh -983 kali dibaca
Jpeg
Ratusan Peserta dari Guru SMK Jurusan Tata Busana di Indonesia sedang mendengarkan arahan dari Indonesia Fashion Chamber (IFC), Hotel Griptha (16/11)
Ratusan Peserta dari Guru SMK Jurusan Tata Busana di Indonesia sedang mendengarkan arahan dari Indonesia Fashion Chamber (IFC), Hotel Griptha (16/11)

Kudus, Isknews.com – Pertumbuhan industri fashion di Indonesia terus meningkat seiring dengan target menjadikan Indonesia sebagai pusat fashion dunia di tahun 2025 yang diawali dengan menjadi sentra fashion muslim global di tahun 2020. Tak luput pula dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi dan digital dalam industri fashion mengarahkan pada meningkatnya kebutuhan akan sumber daya manusia dengan kualitas yang mengikuti tuntutan perkembangan industri ini.

Dengan begitu, menantang institusi pendidikan di bidang fashion, baik di tingkat pendidikan tinggi maupun menengah, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang keahlian tata busana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Peningkatan mutu SMK diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang lebih terampil dan berkualitas sehingga potensi di industri fashion dapat menjadi peluang dan solusi dalam mengatasi kurangnya lapangan kerja di Indonesia.

Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Sumber Daya Manusia Indonesia, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar sistem pendidikan dan pelatihan vokasi saat ini diarahkan pada demand driven sehingga kurikulum, materi pembelajaran, praktik kerja, pengujian, dan sertifikasi dapat sesuai dengan permintaan dunia usaha dan industri terkait. “Ini yang paling penting saya kira, harus melibatkan dunia usaha dan industri karena mereka lebih paham kebutuhan tenaga kerja yang fokus pada pengembangan SMK sektor-sektor unggulan, seperti maritim, pariwisata, pertanian, industri kreatif,” kata Presiden Jokowi dalam Rapat Terbatas tentang pendidikan dan pelatihan vokasi pada September lalu.

Baru-baru ini, salah satu SMK bidang tata busana di Indonesia yaitu SMK NU Banat Kudus telah berhasil menorehkan prestasi international dengan mencuri perhatian publik pada acara “Center Stage Asia’s Fashion Spotlight” di Hong Kong. Keberhasilan SMK NU Banat ini tak lepas dari peran serta Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Indonesia Fashion Chamber (IFC), dan Ditali Cipta Kreatif yang telah membina siswi-siswi SMK NU Banat untuk menghasilkan karya yang menampilkan identitas nusantara di panggung dunia.
Keberhasilan SMK NU Banat di ajang internasional ini membuktikan bahwa slogan SMK Bisa! bukan sekadar slogan. Dengan pola pendidikan yang tepat, kurikulum yang sesuai, peningkatan mutu tenaga pendidik, serta ditunjang oleh infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang memadai, SMK mampu bersaing dalam menetaskan sumber daya manusia yang kompeten di bidang fashion.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia melalui Direktorat Pembinaan SMK yang kembali didukung oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation, menyelenggarakan “Wokshop Pendidikan dan Pelatihan Tata Busana Menuju SMK Go International!” pada tanggal 16-18 November 2016 di Hotel Griptha, Kudus, Jawa Tengah.
Workshop ini diikuti oleh para pendidik yang merupakan perwakilan dari 100 SMK bidang keahlian tata busana yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah narasumber dan mentor yang merupakan para praktisi berpengalaman di industri fashion, antara lain desainer Ali Charisma, Deden Siswanto, Dina Midiani, Lisa Fitria, Sofie, dan Taruna K. Kusmayadi akan memberikan ragam materi, antara lain tentang pengenalan basic design dan style, pengembangan konsep dan desain, Indonesia Trend Forecasting, serta praktek dalam menyusun koleksi rancangan. Para peserta workshop ini juga mendapat kesempatan mengunjungi SMK NU Banat.
Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan mutu tenaga pendidik di bidang tata busana serta meningkatkan inovasi dan kreativitas pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri fashion. Para siswa SMK tak sekadar dibekali kemampuan menjahit saja, namun juga menciptakan rancangan dan menggembangkan trend dengan memadukan unsur budaya lokal. Sehingga selain mencetak tenaga terampil yang mahir secara teknik, SMK juga dapat menetaskan lulusan yang siap menjadi entrepreneur yang mandiri maupun tenaga ahli yang terserap oleh industri fashion.

KOMENTAR SEDULUR ISK :