Kurangi Resiko Kerugian Peternak, Dinas Pertanian Kudus Gencar Sosialisasikan Asuransi Usaha Ternak

oleh

Kudus, isknews.com – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kudus terus menggencarkan sosialisasi Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K). Usaha peternakan memiliki berbagai risiko kematian diantaranya diakibatkan oleh karena kecelakaan, bencana alam termasuk wabah penyakit.

Berkenaan dengan hal tersebut diperlukan Asuransi Pertanian. Asuransi Pertanian merupakan pengalihan risiko yang dapat memberikan ganti rugi akibat kerugian usahatani sehingga keberlangsungan usahatani dapat terjamin, sehingga sangat penting bagi para petani untuk melindungi usahataninya. P

Para peternak saat di kunjungi tim dari Dinas Pertanian dan Pangan Kudus (Foto: YM)

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kudus melalui Kepala Seksi Usaha Sarana dan Prasarana DPP Kabupaten Kudus, Lilis Listiani, menurutnya dengan adanya Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K), maka peternak yang mengalami kerugian usaha budidaya ternaknya¸ akan mendapat dana gantirugi asuransi yang dapat digunakan sebagai modal dalam melanjutkan usahanya.

“Kami berencana mengundang peternak sapi dan kerbau itu untuk menyosialisasikan AUTS/K pada bulan‎ Maret 2020 mendatang,” ujarnya Selasa (25/02/2020).

‎Lilis Listiani‎ menjelaskan, peternak cukup membayar sebesar Rp 40 ribu per tahun maka sapinya akan mendapatkan nilai pertangguhan hingga Rp 10 juta. Pemerintah pusat memberikan subsidi kepada peternak sebesar Rp 160 ribu untuk setiap ekor sapi atau kerbau yang diasuransikan.

“Peternak hanya membayar 20 persen saja dari total premi sebesar Rp 200 ribu per tahun. Sedan‎gkan sisanya 80 persen ditanggung APBN,” jelas dia, disela-sela penyuntikan vitamin kerbau di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus‎.

TRENDING :  Jelang Ramadan Stok Daging di Kudus Dipastikan Aman

Menurutnya, banyak kasus kerbau atau sapi mati sehingga merugikan para peternaknya. ‎Lewat produk asuransi itu, mengurangi risiko kerugian.

Petugas penyuluh lapangan saat melakukan vaksinasi pada hewan ternak (Foto: YM)

Seperti diketahui asuransi ini merupakan hasil Keputusan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2018 tentang Pedoman Bantuan Premi Asuransi Usaha Ternak Sapi dan Kerbau.

Risiko yang dikeluarkan oleh AUTS adalah sapi atau kerbau yang mati karena penyakit, kecelakaan, beranak dan hilang karena kecurian.

“Sapi memang rentan. Jadi kalau dia salah makan, keracunan, jatuh lalu patah tulang akan kami tutupi . Kami juga berpindah menutupi pencurian, tetapi yang mencuri tidak banyak, lebih banyak itu karena penyakit,” tutur dia.

Ada empat kriteria hewan ternak yang akan mendapatkan pertanggungan yakni mati karena penyakit, kecelakaan di jalan raya, karena beranak, dan hilang dicuri.

“Peternak tidak perlu khawatir, jika hewan ternaknya menghadapi masalah itu akan diganti Rp 10 juta. Tetapi jika dipotong paksa akan mendapat separuhnya atau Rp 5 juta,” jelas dia.

Syaratnya, hanya kerbau atau sapi betina yang berusia di atas satu tahun saja bisa ikut serta dalam AUTS/K tersebut.

TRENDING :  RPH Kudus Layani Masyarakat Yang Ingin Sembelihkan Hewan Kurban

Kemudian peternak juga wajib melampirkan surat keterangan kesehatan hewan ternaknya yang diterbitkan DPP Kabupaten Kudus.

‎Syarat tersebut wajib dipenuhi untuk peternak yang ingin mendapatkan alokasi subsidi sebesar Rp 160 ribu dari APBN itu.

“Jika punya kerbau atau sapi jantan juga bisa diasuransikan, tetapi preminya mandiri. Sebesar Rp 200 ribu per tahun,” ujar dia.

Kendati demikian, pihaknya belum mendapatkan informasi terkait alokasi kuota peternak yang akan mendapatkan subsidi di Kabupaten Kudus.

‎‎Jika melihat data sejak dua tahun lalu, alokasinya turun dari 212 peserta pada 2018 lalu menjadi 131 perserta pada 2019.

“Tahun 2020 ini alokasinya saya kurang paham, apakah akan naik atau turun dibandingkan ‎tahun sebelum. Yang jelas kami mempersilakan untuk peternak mendaftar,” ujarnya.

Saat ini, ‎sedikitnya terdapat 109 kelompok peternak sapi dan kerbau di Kabupaten Kudus. Namun diakuinya tidak semuanya aktif.

Makanya, dia juga berencana akan melakukan verifikasi terhadap kelompok peternak tersebut.

“Kemungkinan yang aktif hanya setengahnya dari total kelompok yang terdata, sehingga jumlah peternaknya juga tidak terdata. Namun populasinya kerbau lebih banyak sekitar 2.000 ekor dan sapi 350 ekor,” jelas dia.

‎‎Sementara itu, anggota Kelompok Tani Ternak Kerbau “Maeso Suro”, Sumono (40) menjelaskan, tertarik ikut serta dalam asuransi ternak tersebut.

TRENDING :  Sanksi Tegas Menanti Bagi Pemotong Sapi Betina Produktif

Sebelumnya, dia juga sudah pernah mengikutsertakan kerbaunya dalam AUTS/K namun‎ dia tidak bisa mendapatkan manfaatnya.

“Waktu itu saya tidak perpanjang asuransinya. Jadi saat kerbau saya mati tidak mendapatkan ganti rugi apa-apa,” jelas warga Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Sumono berencana akan terus memperpanjang masa aktif asuransinya agar nilai pertanggungannya bisa terus berjalan.

‎Aturan AUTS/K tahun ini, kata dia, lebih baik daripada sebelumnya karena saat sapi sakit dan terpaksa harus potong paksa.

Peternak tetap mendapatkan nilai pertanggungan meski hanya setengahnya yakni Rp 5 juta.

“Ya lebih enak sekarang, tetap dapat uang ganti Rp 5 juta. Makanya saya mau daftar buat dua ekor kerbau saya,” jelas dia.

Kelompok Tani Ternak Kerbau “Maeso Suro”‎ saat ini beranggotakan 25 peternak yang rata-rata memiliki lima ekor kerbau.

Kelompok tersebut mengelola sedikitnya 125 ekor kerbau, dan 80 ekor di antaranya merupakan indukan.

Harga jual kerbau variatif tergantung permintaan pasar mulai dari Rp 15 juta hingga Rp 18 juta per ekor.

“Kerbau buntingnya itu selama 10 bulan, jadi setiap tahun pasti ada satu yang lahir.‎ Nanti bulan ke 12 atau 13 biasanya sudah bunting lagi,” jelas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :