Masih Jadi Panutan, Awal Ramadhan Versi Almanak Menara Kudus

oleh -1,653 kali dibaca

KUDUS, isknews.com – Meski pemerintah belum menetapkan awal Ramadhan 1437 H, dan seperti pada tahun sebelumnya masih menunggu hasil sidang isbath, namun sebagian Umat Islam di Kudus, bahkan juga di kabupaten sekitarnya, masih banyak yang mengggunakan Almanak Menara Kudus, sebagai panutan tentang awal Ramadhan. Pemberitahuan mengenai awal bulan puasa di Almanak Menara Kudus, karya KH Turaichan Adjhuri Es-Syarofi itu, termuat di halaman terakhir almanak tersebut.

Disebutkan dalam pengumuman itu, 1 Ramadhan 1437 H, jatuh pada Senin Pahing, 6 Juni 2016. Ijtima’, Ahad Legi, 5 Juni 2016, jam 10:03 wib (Qobla Zawal). Matahari terbenam jam 17:29 wib, tinggi hilal malam
Senin + 3° 52′ di atas ufuk. Letak matahari terbenam 22° 39′ di utara titik barat.
Letak hilal 18° 52′ di selatan matahari terbenam, miring ke selatan, lamanya di atas ufuk 17 menit, sampai jam 17:46 wib. Besar cahaya hilal 3/8 jari = 0.37 inci = 9.36 mm.

Di Indonesia, terdapat sejumlah tokoh yang sangat mumpuni dalam bidang ilmu falak ini. Salah satunya adalah KH Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, seorang ulama kelahiran Kudus, 10 Maret 1915, ini dikenal sebagai ‘gurunya para ahli ilmu falak Indonesia’. Kepakarannya dalam bidang ini sudah tak diragukan lagi, mengingat keilmuan dan kapasitasnya yang dalam menekuni ilmu falak. Karena kepakarannya itu, Kiai Turaichan biasa disapa dengan Mbah Turaichan diberikan jabatan sebagai Ketua Markas Penanggalan Provinsi Jawa Tengah.

Siapakah KH Turaichan Adjhuri? Ulama dan imam terkemuka Masjid Menara Kudus itu, lahir di Kudus, pada 22 Rabi’ul Akhir 1334 H/10 Maret 1915 M, dari pasangan suami istri KH Adjhuri dan Nyai Dewi Sukainah. Beliau belajar ilmu falak secara otodidak, tetapi ketika menemui kesulitan/kemusykilan atau tidak memahami sesuatu, beliau berkonsultasi dengan gurunya, KH Abdul Djalil.

Dari ketekunannya itulah, KH Turaichan memiliki kepiawaian dalam penghitungan ilmu falak yang ketepatannya tidak diragukan lagi. Mulai dari penentuan awal bulan Hijriah, adanya gerhana dan penerbitan almanak.

Menyebut ilmu falak, mungkin bagi sebagian umat Islam masih terasa asing di telinga. Ilmu falak adalah suatu ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit, khususnya bumi, bulan, dan matahari pada orbitnya masing-masing dengan tujuan agar dapat diketahui posisi benda-benda langit antara yang satu dan lainnya, sehingga dapat diketahui pula peredaran waktu di permukaan bumi.

Ilmu ini disebut pula dengan ilmu perbintangan atau astronomi, karena menghitung atau mengukur lintasan bintang-bintang. Ia biasa juga disebut dengan ilmu hisab, karena dipergunakan perhitungan. Kata lainnya adalah ilmu  rashd, karena memerlukan pengamatan, atau ilmu  miqat yang mempelajari tentang batas-batas waktu.Di dunia Islam, istilah ini sudah sangat familiar. Bahkan, banyak ilmuan Muslim yang mampu melakukan perhitungan secara cermat dan teliti sehingga dapat diketahui ukuran waktu di suatu tempat.

Dalam Islam, ilmu ini sangat berkaitan erat dengan penanggalan (kalender), waktu shalat, arah kiblat, dan gerhana. Untuk penanggalan (kalender) ini, Islam mengenal berbagai istilah penanggalan, di antaranya kalender Masehi dan Hijriah. Umumnya, penanggalan Hijriah menggunakan masa edar bulan atau disebut pula dengan penanggalan Qomariyah (bulan). Sedangkan penanggalan Masehi biasanya menggunakan penanggalan Syamsiyah (menghitung waktu berdasarkan masa edar matahari).

Berawal dari sering dimintai tolong menghitung jatuhnya awal dan akhir Ramadhan, menimbulkan dorongan untuk menyusun almanak yang sampai saat ini masih berlangsung dan digunakan oleh khalayak, khususnya umat Islam, tak hanya di Kudus, namun di sebagian besar kota di Pulau Jawa, yakni Almanak Menara Kudus. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :