Kudus, ISKNEWS.COM – Sebuah desa di lereng gunung Muria ini dikenal masyarakat sebagai tempat wisata penangkaran rusa. Desa yang terletak di kecamatan Gebog tersebut bernama Gondosari. Mendengar namanya, masyarakat sudah bisa menyimpulkan mengenai asal usul desa ini.
“Dari namanya saja, masyarakat sudah bisa mengartikan bahwa Gondo bermakna bau atau semacam wangi-wangian. Sedangkan Sari bermakna inti. Sehingga Gondosari berarti daerah yang menjadi sumber dari wangi-wangian,” ucap Muhammad Yusuf, Kamis (24-05-2018).
Plt. Sekertaris Desa Gondosari tersebut, membenarkan penafsiran sederhana tersebut. Diungkapkannya, pada zaman dahulu, tepatnya sebelum era penjajahan Belanda. Desa tersebut masih berupa hutan dengan beberapa kawasan permukiman penduduk.
“Waktu itu, ada seorang ulama yang berasal dari daerah pesisir pulau Jawa, tepatnya daerah Bangsri, Jepara. Kedatangannya daerah tersebut bertujuan untuk mensyiarkan agama Islam. Ulama’ tersebut bernama Mbah Singo Ranu,” katanya.
Dalam perjalanannya menyusuri daerah di lereng gunung Muria tersebut, Mbah Singo Ranu selalu mencium sebuah bau yang sangat harum. Bahkan bau tersebut tidak pernah hilang dalam waktu yang lama dan tidak diketahui asalnya.
“Menurut cerita dari sesepuh desa Gondosari, mereka mengatakan bahwa bau harum tersebut berupa bau wangi-wangian bunga. Dari bau tersebut, Mbah Singo Ranu seperti bersabda ‘Besuk rejaning zaman, daerah iki tak jejengke Gondosari’. Dari sabda Mbah Singo Ranu tersebut desa ini diberi nama Gondosari,” jelas Yusuf.
Di desa Gondosari, Mbah Singo Ranu mensyiarkan agama Islam pada masyarakat setempat, hingga akhir hayatnya. Kini, Mbah Singo Ranu dimakankan di kawasan Masjid Sabilul Huda yang terletak di dukuh Gebog Wetan, Desa Gondosari.
Menurut keterangan Kasinu, Perangkat Desa Gondosari yang sekaligus sebagai tokoh masyarakat di dukuh Geboh Wetan, mengatakan pada zaman dahulu Masjid peninggalan Mbah Singo Ranu itu, memiliki arsitektur yang unik dan khas.
“Sebelum dipugar total pada tahun 1975 masehi. Masjid ini masih berupa bangunan bata merah yang sangat unik. Secara keseluruhan, bangunan Masjid ini dahulu seperti rumah panggung namun terbuat dari bata merah. Tinggi alas bangunan tersebut ke tanah mencapai 1,5 meter,” ungkap Kasinu.
Imbuhnya, “Dan yang membuat masjid ini sangat unik adalah atapnya, yang berasal dari daun rumbia. Namun disayangkan, pada waktu itu, bangunan masjid tersebut tidak sempat diabadikan dalam bentuk foto, sebagai bukti sejarah.” (NNC/WH)






