Menjelang Lebaran, Pasar Kliwon Kudus Kembali Bergairah, Pedagang Raup Kenaikan Omzet

oleh -403 Dilihat
Kondisi menjelang lebaran, pasar kliwon dipadati banyak pelanggan. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Suasana Pasar Kliwon Kudus mulai kembali bergeliat menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Setelah sempat lengang pada hari-hari biasa, kawasan pasar tradisional tersebut kini dipadati pembeli yang berburu busana baru untuk merayakan lebaran bersama keluarga.

Sejak pagi, aktivitas jual beli terlihat ramai. Para pengunjung tampak wira-wiri menyusuri lorong pasar, memilih pakaian yang akan dikenakan saat Idul Fitri. Suara pedagang yang menawarkan dagangan bersahut-sahutan memecah keramaian.

Cari apa kak? Monggo mampir, boleh lihat-lihat dulu,” teriak beberapa pedagang kepada pengunjung yang melintas.

Keramaian di Pasar Kliwon sebenarnya sudah mulai terasa sejak dua pekan sebelum Ramadan. Namun, intensitas pembeli biasanya meningkat pada akhir pekan atau hari libur.

Salah satu pedagang busana, Moza (30), mengatakan tahun ini suasana pasar menjelang lebaran terasa lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Meski pada hari biasa pembeli belum terlalu banyak, lonjakan pengunjung mulai terlihat setiap Jumat hingga Minggu.

Banyak pembeli yang menanyakan pakaian untuk sepasang keluarga atau family set, juga untuk bridesmaid. Tapi yang paling banyak diminati tahun ini dress muslim,” ujarnya.

Ia menambahkan, tren busana yang diminati pembeli saat ini cukup beragam, mulai dari gaya korean look hingga gaun muslim dengan desain sederhana dan warna kalem.

Selain itu, fenomena tren “gamis bini orang” juga masih menjadi incaran pembeli, khususnya kalangan perempuan usia 20 hingga 30 tahun.

Peminatnya memang kebanyakan usia 20–30 tahun untuk model bini orang,” katanya.

Meski berbelanja di pasar tradisional membutuhkan waktu dan tenaga lebih dibandingkan membeli secara daring, sebagian pembeli justru menikmati pengalaman tersebut. Mereka bisa melihat langsung kualitas bahan, mencoba pakaian, hingga melakukan tawar-menawar harga.

Salah satunya Sagita Marta Sahanaya (20), warga Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus. Mahasiswi yang akrab disapa Hana itu sengaja datang ke pasar bersama keluarganya untuk membeli baju lebaran.

Kebetulan sudah libur kuliah dan ingin belanja buat persiapan lebaran. Hari ini ke pasar bareng keluarga,” ujarnya saat memilih gaun di salah satu lapak.

Menurut Hana, harga pakaian di pasar tradisional relatif lebih terjangkau dibandingkan toko di luar atau toko online.

Di sini lebih murah daripada beli di toko luar atau online,” ucapnya.

Selain memilih baju untuk dirinya sendiri, Hana juga membantu mencarikan pakaian untuk adik dan ibunya. Ia mengaku sensasi mencoba dan memilih pakaian langsung di toko memberikan kepuasan tersendiri.

Rasanya lebih mantap karena bisa lihat dan coba langsung sampai dapat yang benar-benar pas,” imbuhnya.

Pedagang lainnya, Eros Yaris (52), juga merasakan dampak meningkatnya jumlah pembeli. Ia mengaku omzet penjualannya naik sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan hari biasa.

Menurutnya, keramaian sudah mulai terasa sejak dua minggu terakhir, terutama pada akhir pekan ketika banyak warga memanfaatkan waktu luang untuk berbelanja.

Pagi sampai siang, apalagi weekend itu sangat ramai. Alhamdulillah ada kenaikan omzet sekitar 20 sampai 30 persen,” katanya.

Eros berharap momentum lebaran dapat menghidupkan kembali geliat pasar tradisional seperti masa lalu. Ia optimistis lonjakan pembeli menjelang Idul Fitri mampu membantu meningkatkan perekonomian para pedagang yang sempat lesu.

Semoga pasar bisa kembali seramai dulu, supaya ekonomi pedagang juga ikut terangkat,” pungkasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.