Metode Bertani Pisang Campursari Yang Menjanjikan Ala Edi

oleh -1,582 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Prospek bertani pisang merupakan potensi besar yang belum dikelola secara profesional oleh para petani di Kudus, padahal bertani pisang memiliki nilai ekonomi yang lebih menjanjikan dibanding dengan komoditas tanaman semusim lainya, sebab menanam pisang satu kali bisa panen seterusnya dari tunas tunas baru, artinya modal tanam satu kali bisa untung seterusnya.

Tanah yang cukup subur di wilayah  ini membuat komunitas petani pisang Kudus yang dipelopori oleh Edi warga Jepang Pakis kec Jati Kudus terinspirasi untuk bertani pisang. Mereka melakukan kegiatan kampanye dan sosialisai agar para petani mau membudidayakan pisang sebagai salah satu komoditas unggulan dan memilki profit yang tinggi.

01a“Jenis pisang yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran adalah pisang raja, pisang ambon, kepok pipit dan pisang susu,” ujar Edi seorang warga Jepang Pakis yang saat ini telah memulai penanaman pohon pisang ambon dan raja di lahan pertanian seluas 1 hektar di daerah Pekeng jalan arah Loram Kudus.

Edi mengaku mengawali usaha perkebunan pisang tersebut baru sekitar tiga bulan lalu. Ia mulai melirik dan akhirnya terjun dan menanam tanaman buah pisang ini setelah melihat prospek bertani pisang yang cukup menjanjikan, Edi yang sebenarnya tidak memiliki latar belakang di bidang pertanian, namun dia memiliki kecintaan dalam bidang pertanian, sehingga karena suka akhirnya memiliki semangat untuk belajar dan belajar tentang pertanian, baik belajar melalui teman-temannya maupun juga belajar melalui browsing di internet, bahkan tidak hanya sekedar teori.

02Edi langsung praktek terjun bertani pisang dengan menanam 1000 pohon dengan tumpangsari 4000an cabe rawit dan menanam jeruk pecel di tepi atau pinggirnya, juga memanfaatkan sela sela dengan ternak ikan nila. Edi memiliki obsesi dan cita-cita untuk bertani secara professional sudah cukup lama. Saat itu, dia masih menjalani aktifitasnya sebagai penyedia jasa kontaraktor di Kudus.

Dari pengalaman dalam dunia proyek yang ia geluti, dia selalu terjun langsung di lapangan sehingga membuatnya dia selalu melihat-lihat lahan dan ladang diberbagai daerah. Menurut pantauan nya banyak tanah-tanah yang produktif  dianggurkan dan rata rata hanya ditanami tanaman semusim yang tidak memiliki nilai jual tinngi dipasaran, sehingga petani tidak diuntungkan.

Selanjutnya ia berpikir, untuk mencari alternative pertanian yang memiliki daya jual tinggi. Hingga akhirnya menemukan ide bertani pisang, kini ia mengembangkan usahanya untuk membudidayakan pisang jenis ambon dan pisang raja di depan rumahnya. ‘’Kebetulan rumah saya dekat persawahan, jadi memang pas kalau kemudian saya terinspirasi menjadi petani pisang,’’ jelasnya, kemarin (23/6).

Menurutnya ia mulai menanam pisang di Jepang Pakis ini baru 3 bulan lalu. Awalnya dia mulai melihat kondisi tanah yang menurutnya cukup subur untuk ditanami pisang ambon dan raja yang berpotensi untuk diekspor. Dengan modal yang cukup, akhirnya bibit mulai didatangkan dan ditanam. “Untuk merawat pisang, perlu teknik khusus. Misalnya, kontrol setiap hari, kebutuhan air harus cukup. Saat berbuah, buah pisang harus dijaga agar tidak dimakan oleh serangga atau terserang hama,” ungkapnya.

“Bahkan saya setiap pagi selalu melakukan kontrol rutin, satu persatu pohon pohon pisang saya cek, sambil mencabuti rumput, dan melihat pohon dan daun pisang yang terkena hama ulat ataupun lainnya” ujarnya. Edi menambahkan banyak pelajaran yang bisa diambil dari penanamn pisang ini, “Dari awal penanaman ini saya sudah banyak mendapatkan inspirasi baru tentang prospek bertani pisang ke depan, banyak rencana rencana yang akan kita kembangkan terkait dengan bisnis pisang ini,” tambahnya.

Rencana rencana tersebut sudah didiskusikan dengan petani-petani pisang di kudus dan calon petani pisanng lainnya, mulai dari penjualan bibit pisang, hasil panen pisang sampai rencana menjadi pengepul pisang atau membuat cluster pisang untuk di eksport keluar negeri, hal ini akan di kelola dan di tangani secara tim/kebersamaan melalui paguyuban petani pisang di Kudus.

Dia mulai menganalisa dan menghitung, prospek bertani pisang ini cukup cerah, dari menjual bibitnya saja sudah untung atau balik modal, “setelah saya amati satu persatu, pisang baru usia 3 bulan saja sudah mulai tumbuh tunas baru, ada yang 2 ada yang 3 tunas, bahkan ada yang 4 tunas, kalau dibuat rata rata 2 tunas per pohon maka tahun depan dari 1000 pohon ini akan menjadi 3 ribu pohon pisang, berarti kita juga bisa menjual tunasnya atau mengembangkan tanaman baru di area lain” imbuhnya.

Selain itu, dari hasil survai di pasar tradisional di sekitar Kudus, harga pisang ambon dan pisang raja cukup fantastis, satu tandan isi 12 sisir bisa laku di atas 200.000, tergantung type dan jumlah sisirnya. “Marketnya tidak hanya di Kudus saja. Tapi di Semarang, Jogjakarta, Bandung sudah banyak yang meminta, kalau lokal yang minat kebanyakan dari supermarket atau toko toko buah’’ ungkapnya.

Dia menerangkan, usia panen pisang ambon juga beraneka ragam. Bisa jadi, 10-11 bulan baru melakukan panen. Dengan begitu, petani yang menanam pisang jenis ambon bisa menuai untung. “Saya kira di Kudus tanahnya cukup cocok untuk pisang jenis ini. Yang terpenting irigasi dan cara tanamnya yang pas,’’ pungkasnya.(YM)

Untuk Konsultasi masalah pisang bisa ke Hp 081914020218

KOMENTAR SEDULUR ISK :