MUI Kudus Sebut Tradisi Minum Susu Putih di Tahun Baru Islam Sebagai Tafa’ul Kebaikan

oleh -388 Dilihat
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus, KH. Ahmad Hamdani Hasanuddin (Foto: ist.)

Kudus, isknews.com – Tradisi minum susu putih saat malam 1 Muharam yang masih banyak dilakukan masyarakat Kudus dinilai sebagai bentuk tafa’ul atau mengharap datangnya kebaikan dan keberkahan di tahun yang baru. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut diperbolehkan selama tidak diyakini secara berlebihan dan tetap menjadikan doa kepada Allah SWT sebagai hal yang utama.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus, KH. Ahmad Hamdani Hasanuddin, Lc., M.A., mengatakan tradisi minum susu putih merupakan salah satu bentuk ikhtiar batin masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam dengan harapan memperoleh keberkahan, keselamatan, dan kehidupan yang lebih baik.

Silakan saja dilakukan. Itu sebagai bentuk mengharap kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi tersebut sudah lama dikenal di tengah masyarakat Kudus dan menjadi bagian dari budaya religius yang berkembang dari generasi ke generasi. Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak memandang tradisi tersebut sebagai sesuatu yang wajib atau memiliki kekuatan tertentu di luar kehendak Allah SWT.

Pada dasarnya itu sebagai bentuk tafa’ul atau mengharap kebaikan. Yang penting tidak diyakini secara berlebihan dan tetap menjadikan doa serta ikhtiar kepada Allah sebagai yang utama,” jelasnya.

KH. Ahmad Hamdani menuturkan, minum susu putih biasanya dilakukan saat memasuki awal tahun hijriah, yakni setelah Magrib pada malam 1 Muharam. Namun, tidak ada ketentuan khusus mengenai tata cara maupun waktu pelaksanaannya.

Biasanya dilakukan di awal tahun setelah Magrib. Kalau tidak sempat setelah Magrib, bisa dilakukan pada waktu lain di hari pertama tahun baru,” katanya.

Selain tradisi minum susu putih, MUI Kudus juga mengajak umat Islam untuk mengisi pergantian tahun hijriah dengan berbagai amalan yang lebih utama, seperti membaca doa akhir tahun sebelum Magrib, membaca doa awal tahun setelah Magrib, serta melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

Menurutnya, Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun terakhir sekaligus menyusun tekad menjadi pribadi yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Anjurannya adalah membaca doa akhir tahun sebelum Magrib dan doa awal tahun setelah Magrib. Selain itu, perbanyak muhasabah diri untuk perbaikan di tahun yang akan datang,” tuturnya.

Pada peringatan malam 1 Muharam, sejumlah kegiatan keagamaan juga digelar di berbagai wilayah di Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut meliputi doa bersama akhir tahun, muhasabah, hingga pembacaan doa awal tahun yang diikuti masyarakat dari berbagai kalangan.

MUI Kudus berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum Tahun Baru Islam untuk memperkuat keimanan, meningkatkan amal kebaikan, serta menjadikan pergantian tahun sebagai sarana memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (AS/YM)