Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Kudus: Seberapa Efektif?

oleh -123 Dilihat
Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Puskesmas Rejosari Kudus. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang mulai dilaksanakan di Kabupaten Kudus sejak 10 Februari 2025 masih menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Meskipun pemerintah telah gencar melakukan promosi, tingkat kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan ini masih tergolong rendah.

PKG merupakan salah satu program hasil cepat dari kabinet Prabowo Astacita yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat sehat dan sejahtera guna mendukung generasi emas 2045. Program ini menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir, balita, anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia. Bahkan, terdapat sasaran khusus bagi ibu hamil serta bayi dan anak-anak di bawah usia enam tahun.

Penjabat (Pj) Bupati Kudus, Herda Helmijaya, mengungkapkan bahwa PKG memiliki manfaat besar dalam mendeteksi dini kondisi kesehatan masyarakat. Jika program ini bisa diterapkan secara luas, maka akan tersedia data lengkap mengenai prevalensi penyakit di tiap wilayah dalam kurun waktu tertentu.

“Kalau bisa diwujudkan di seluruh dunia, kita bisa memiliki data lengkap mengenai prevalensi penyakit tertentu di tiap wilayah dalam kurun waktu tertentu,” ujarnya, Kamis (13/2).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Andini Aridewi, menjelaskan bahwa dalam tahap awal, 19 Puskesmas di Kudus siap melayani PKG Hari Ulang Tahun dengan memanfaatkan sumber daya kesehatan yang tersedia. Selain itu, Laboratorium Kesehatan Kabupaten Kudus juga telah menerima rujukan pemeriksaan laboratorium untuk kasus yang tidak bisa ditangani di Puskesmas.

Dalam pelaksanaan program ini, sistem pendaftaran, pencatatan, dan pelaporan dilakukan melalui Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKN), seperti aplikasi Satu Sehat Mobile (SSM) dan website Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). Masyarakat dapat mendaftar melalui aplikasi atau datang langsung ke Puskesmas dengan membawa identitas diri.

Namun, hingga hari ketiga pelaksanaan PKG, data menunjukkan masih rendahnya tingkat kehadiran peserta. Dari 132 orang yang telah mendaftar melalui aplikasi Satu Sehat Mobile, hanya 100 orang yang benar-benar datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Mereka terdiri dari 48 bayi baru lahir, 6 balita dan anak prasekolah, 40 orang dewasa, dan 6 lansia. Hasil pemeriksaan menunjukkan 72 orang dinyatakan sehat, 5 orang membutuhkan perawatan lebih lanjut, dan 23 orang harus menjalani pemeriksaan lanjutan.

Tantangan di Lapangan

Meski program ini sudah berjalan, masih banyak kendala yang harus dihadapi. Kepala Puskesmas Rejosari, dr. Isna Noor Khilda, menuturkan bahwa sebagian masyarakat masih mengalami kesulitan dalam mengakses teknologi untuk pendaftaran.

“Sebenarnya mereka ingin mengikuti, tetapi terkendala teknologi. Padahal kami sudah menyediakan pojok sehat dan bisa melayani lewat WhatsApp di luar jam kerja,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kendala ini, pihaknya telah bekerja sama dengan kepala desa, kader TP PKK, serta memanfaatkan media sosial guna meningkatkan sosialisasi program.

Selain itu, Dinas Kesehatan Kudus juga bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) agar masyarakat yang belum memiliki Identitas Kependudukan (IKD) bisa segera mengurusnya, sehingga tidak terkendala dalam mengakses layanan PKG.

Pemerintah berharap partisipasi masyarakat dalam PKG bisa terus meningkat agar program ini benar-benar efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dengan pemeriksaan kesehatan secara rutin, diharapkan angka kesakitan bisa ditekan, serta upaya preventif dalam menjaga kesehatan dapat lebih maksimal.

“Kami berharap masyarakat lebih sadar akan pentingnya memeriksakan kesehatan demi masa depan yang lebih sehat,” tandas dr. Isna. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :