Bantuan Grab Louder Alat Tebang Angkut Bagi Petani Tebu Kudus

oleh -1,482 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Masalah klasik yang selalu terjadi pada setiap musim giling pada pabrik gula tiba adalah tenaga tebang dan angkut. Untuk mengantisipasi hal tersebut  salah satu solusi adalah dengan memanfaatkan teknologi berupa grab loader.agar bisa memperlancar suplai tebu.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah melakukan mekanisasi petanian dengan menyalurkan bantuan sosial berupa mesin pengangkut tebu (grab loader) seharga Rp 700 juta pada pengusaha tebu di Kudus melalui Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Saribuana.

“ Prosesnya memang koperasi ini minta bansosnya ke pemerintah pusat. Tapi kan tetap minta tandatangan dan sepengetahuan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kudus,” ujar Catur Sulistiyanto S.Sos, MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus, disela-sela melihat mesin Grab Loader di halaman PG Rendeng depan kantor KPTR Saribuana.

Kedatangan Catur Sulistiyanto didampingi Harsito, Kabid Tanaman Pangan dan Perkebunan, bersama Hartadi, Kasie Perhebunan, setelah mendengar bila bansos mesin pengangkut tebu APBN 2017 sudah datang di Kudus sejak Rabu (31/05/17) lalu.

“ Ini bisa dipakainya kapan? ,” tanya Catur Sulistiyanto pada pengurus koperasi.

Saat ini KPTR Saribuana memiliki dua mesin Grab Loader untuk mengangkut tebu ke atas truk.

Sadjam Budi Santoso, Ketua KPTR Saribuana, mengatakan bila penggunaan mesin grab loader setelah operator mendapat pelatihan dari pemerintah pusat.

“ Jadwalnya minggu di depan di Jepara bersama dengan dari daerah lain di Jawa Tengah ,” ucap Sadjam.

Dijelaskan, saat ini mesin grab loader di KPTR Saribuana Kudus menjadi dua unit. Sebab sebelumnya yakni pada tahun 2015 lalu mendapatkan bansos dengan mesin yang sama. Sedangkan pada tahun 2016 hanya mendapatkan mesin traktor pembajak sawah.

Keberadaan mesin ini berdasarkan perhitunganya bisa menghemat biaya penebangan tebu sampai hampir 50 persen. Sebab pekerja hanya melakukan penebangan saja tanpa menaikkan ke atas truk.

“ Kalau biasanya kan sehari satu truk, dengan mesin ini bisa dua bahkan tiga. Ya karena pekerjaan dari penebang lebih enteng, menebang kemudian mengikat dan dikumpulkan. Yang angkut ke atas truk nanti yang mesin ini. Kita perkirakan biaya penebangan perhektarnya hanya Rp 1,7 juta. Padahal kalau menggunakan tenaga manusia penuh mencapai Rp 3 juta perhektar ,” terangnya.

“ Dengan adanya bantuan tersebut diharapkan bisa semakin menekan biaya pertanian tebu. Bila sebelumnya sudah dapat mesin traktor, kemudian sekarang grab loader untuk angkut panen. Sebelumnya kami juga mendapatkan tawaran jenis mesin panennya yaitu Harvester, tetapi setelah dilakukan demo mesin, tidak jadi kita ambil. Sebab jalannya hanya lurus searah, jadinya seperti jalannya obat nyamuk bakar. Tidak efektif lah ,” imbuhnya.

Namun Sadjam menegaskan bila mesin grab loader ini tidak digunakan untuk para pemilik lahan pertanian tebu dengan luas diibawah satu hektar. Alasannya apabila lahan tebu yang ditebang hanya beberapa petak bisa menggunakan tenaga manusia.

“ Biasanya pemilik tebu dibawah satu hektar itu kan untuk dibuat gula tumbu. Paling-paling ya sehari hanya butuh satu rit (muatan truk). Padahal kalau pakai mesin ini sehari harus diatas dua truk. Selain itu kalau sedikit lahannya, nanti penyewa rugi membayar ke operator mesin. Ini memang kita sewakan untuk anggota koperasi, dananya untuk operasional perawatan ,” tuturnya.(YM/distan)

KOMENTAR SEDULUR ISK :