Rembang, isknews (Lintas Rembang) – Peneliti effo Prancis Dr. Veronigue Blood bersama pakar Arkeologi Nasional (Arkenas) Prof. Agustianto tertarik pada peninggalan bersejarah di kabupaten Rembang. Selama di Rembang telah menyusuri beberapa peninggalan bersejarah mulai dari piringan, caruban, situs Mojopahit di Jolotundo dan Sumber Girang Lasem, Masjid Lasem, desa Gembleng Mulyo, dan dukuh Ngreco Langkir, situs perahu kuno Punjulharjo dan Prasasti Sambikalung di desa Pamotan kecamatan Pamotan.
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Tenaga Ahli Cagar Budaya Rembang Edi Winarno saat dihubungi, Rabu (20/7/2017) mengatakan dirinya berkesempatan mendampingi peneliti Perancis. Menurutnya Veronigue tertarik prasasti sambikalung karena selain ukurannya besar juga terdapat tulisan kecil huruf kuno berjajar rapi mencapai ratusan yang isinya belum tergali.

Edi Winarno menjelaskan penemuan situs Sambikalung awalnya terdapat di pohon kesambi. Prasasti tersebut terlihat jelas setelah pohon kesambi tumbang tahun 1994 dan kemudian dilaporkan kebalai Arkeologi.
“ Ukuran prasasti Sambikalung sangat besar, terdapat tulisan kuno yang masih misterius dan belum bisa dikenali karena tulisannya kecil berjajar rapi ukuran sekitar 1 cm, Prasasti ini tidak cukup bisa dimaknai tapal batas, pasti ada hal penting yang disampaikan dalam prasasti, ” terangnya.
Kemisteriusan prasasti membuat pihaknya meminta bantuan balai arkeologi Yogyakarta. Dengan harapan dengan peralatan yang lebih canggih dan lengkap misteri Sambikalung bisa terungkap.
Dari Hasil penelitian prasasti, sejauh ini belum bisa disimpulkan dan perlu penelitian ulang dari tenaga ahli cagar budaya, apakah prasasti Sambikalung merupakan peninggalan jaman Majapahit abad 14 atau sebelumnya jaman Jenggala abad 11.
Edi Winarno sekaligus Kepala dinas kearsipan dan perpustakaan Kabupaten Rembang menyebut kondisi prasasti saat ini kurang terawat. Pergantian cuaca panas dan hujan menyebabkan tulisan di prasasti mulai terkikis dan tidak kelihatan.
Pihaknya berharap ada perhatian dari pemkab atau pihak desa Pamotan khususnya untuk pelestrarian sejarah prasasti, minimal terlindung dari cuaca panas dan hujan dengan dibuatkan kanopi.
Sementara itu Ketua RW 07 Dukuh Sambikalung Trimo menyatakan, pihaknya sebelumnya sudah mengusulkan pihak desa Pamotan untuk membuatkan kanopi agar kondisi prasasti sambikalung bisa terawat. Namun sejauh ini belum ada realisasi. (Mcs)










