Pertemuan Koordinasi KPA se-Jateng Digelar di Kudus, Target Triple Zero 2030

oleh -641 Dilihat
“Bupati Kudus Sam’ani Intakoris didampingi Wakil Bupati Bellinda Putri bersama Asisten I Setda Provinsi Jawa Tengah Iwanuddin Iskandar dan Sekretaris KPA Jawa Tengah dr. Irma Makiah saat membuka Pertemuan Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS se-Jawa Tengah di @Hom Hotel Kudus, Senin (29/9/2025). (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah menggelar pertemuan koordinasi di @Hom Hotel Kudus pada 29–30 September 2025. Agenda ini mempertemukan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, rumah sakit, perusahaan, dunia pendidikan, hingga masyarakat sipil untuk memperkuat langkah menekan penularan HIV/AIDS.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, didampingi Wakil Bupati Bellinda Putri, menegaskan bahwa penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. “Semua unsur, mulai dari pemerintah, rumah sakit, dunia pendidikan, hingga perusahaan harus bergerak bersama. Harapannya, penyebaran HIV/AIDS bisa semakin dipersempit, baik di Kudus maupun di Jawa Tengah,” ujarnya.

Sam’ani juga menekankan pentingnya dukungan lintas sektor, termasuk pendampingan psikologis bagi penderita, agar mereka tidak merasa terisolasi. Ia berpesan khusus kepada generasi muda untuk menjaga pergaulan, selalu dekat dengan orang tua, dan berpegang pada nilai-nilai religius agar terhindar dari perilaku berisiko.

Sementara itu, Asisten I Setda Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, memberikan apresiasi terhadap Kudus yang dinilai konsisten berada di jajaran lima besar daerah dengan capaian kesehatan terbaik. Menurutnya, capaian itu lahir dari komitmen kepala daerah, dukungan OPD, dunia usaha, dan partisipasi masyarakat.

“Jawa Tengah menargetkan triple zero pada 2030, yakni zero infeksi baru, zero kematian akibat HIV/AIDS, dan zero stigma. Pola kolaborasi seperti ini menjadi kunci untuk mencapai target tersebut,” jelas Iwanuddin.

Senada, Sekretaris KPA Jawa Tengah, dr. Irma Makiah, menegaskan bahwa HIV masih seperti fenomena gunung es. Kasus yang terdata baru permukaan, sementara jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Karena itu, ia menekankan strategi menemukan sebanyak mungkin kasus untuk memutus mata rantai penularan.

“Tiga hal utama yang kita dorong adalah zero infeksi baru, zero kematian akibat HIV, dan zero stigma. Salah satunya dengan menyasar remaja melalui integrasi program kesehatan mental di sekolah. Banyak kasus berawal dari ketidaknyamanan di rumah sehingga remaja mencari pelarian ke pergaulan berisiko,” paparnya.

Irma menambahkan, kasus HIV di kalangan remaja menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Meski banyak baru terdeteksi saat usia produktif, penularannya kerap terjadi sejak remaja. “Karena itu, pencegahan dini sangat penting,” tandasnya.

Pertemuan koordinasi ini diharapkan mampu memperkuat komitmen daerah untuk bersama-sama mencapai target triple zero 2030 dan memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :