Kudus, isknews.com – Tumpukan rumput hijau terlihat memenuhi sudut kandang di Haikal Farm, Kabupaten Kudus.
Di tempat inilah puluhan kambing kurban dirawat setiap hari dengan pola pakan yang dijaga ketat demi menghasilkan bobot ternak yang optimal menjelang Iduladha.
Bagi Suparno, owner Haikal Farm, keberhasilan penggemukan kambing tidak bisa dilepaskan dari kualitas pakan yang diberikan.
Ia menilai banyak peternak pemula terlalu fokus pada hasil akhir tanpa memahami proses dasar dalam berternak.
“Banyak yang lihat peternak besar sukses lalu ikut-ikutan ternak. Tapi tidak tahu prosesnya seperti apa,” katanya sambil menata pakan di area kandang.
Pria yang mengelola Haikal Farm itu menyebut, kunci utama keberhasilan penggemukan kambing sebenarnya terletak pada pakan.
Bukan sekadar banyaknya rumput yang diberikan, tetapi bagaimana kandungan nutrisinya benar-benar terpenuhi.
Menurutnya, kambing membutuhkan keseimbangan protein, karbohidrat, dan serat agar pertumbuhan bobot badannya optimal.
“Kalau tiga unsur itu tidak terpenuhi, penggemukan akan sulit berhasil,” ujarnya.
Di Haikal Farm, pengelolaan pakan menjadi perhatian utama.
Bahkan, Suparno mengaku sekitar 70 persen biaya operasional peternakan habis untuk kebutuhan pakan ternak.
Hal itu pula yang membuatnya kerap berbagi pengalaman kepada peternak pemula.
Salah satunya terkait kebiasaan memberi rumput segar yang baru dipanen kepada kambing.
Kebiasaan yang umum dilakukan peternak desa itu justru dinilai berisiko bagi kesehatan ternak.
“Rumput yang baru dipanen kadar airnya masih tinggi, itu rentan menyebabkan kambing kembung kalau langsung diberikan,” jelasnya.
Selain fokus pada penggemukan atau fattening, Haikal Farm juga mengembangkan sektor breeding dan genetika kambing unggulan.
Salah satu jenis kambing yang dikembangkan yakni Saanen untuk kebutuhan pemerahan susu.
Di tengah meningkatnya harga sapi dan kerbau, Suparno melihat minat masyarakat terhadap kambing kurban tahun ini terus bertambah.
Kondisi itu mulai terasa di kandangnya.
Dari sekitar 40 ekor kambing yang disiapkan untuk Iduladha, sebagian sudah lebih dulu dipesan pembeli.
“Sekarang banyak yang beralih ke kambing karena harga sapi dan kerbau semakin tinggi,” katanya.
Pasar terbesar Haikal Farm berasal dari lingkungan pondok pesantren di Kudus.
Banyak wali santri datang langsung memilih kambing ketika menjenguk anak mereka di pesantren.
Setelah dipilih, kambing akan tetap dipelihara di kandang hingga mendekati hari penyembelihan sebelum akhirnya diantar ke lokasi kurban.
“Biasanya orang tua santri datang pilih sendiri, nanti kami rawat sampai hari H lalu kami antar ke pondok pesantren,” ujarnya.
Untuk harga, Haikal Farm menyediakan kambing kurban mulai Rp2,5 juta hingga Rp5 juta sesuai ukuran dan kebutuhan pembeli.
Di balik ramainya penjualan menjelang Iduladha, Suparno percaya satu hal sederhana tetap menjadi fondasi utama peternakan kambing.
Bukan kandang besar ataupun jumlah ternak yang banyak, melainkan bagaimana peternak mampu memahami pakan dengan baik. (YM/YM)









