Problematika Lahan Tanam Perkotaan Arahkan Petani Budidaya Tanaman Holtikultura

oleh -986 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Problematika makin berkurangnya lahan pertanian di kawasan perkotaan menjadi problematika yang sama bahkan di seluruh negeri, menyusul semakin banyaknya perubahan fungsi lahan menjadi area industri, pemukiman dan bangunan lainnya.

Begitu juga yang terjadi di wilayah kecamatan Kota Kabupaten Kudus, demi memaksimalkan produksi dengan nilai ekonomis tinggi sehingga menaikkan tingkat kesejahteraan petani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) mengarahkan petani untuk menanam jenis hortikultura.

Menurut PPL Sadiyoningsih, karena beberapa lahan di kawasan perkotaan dalam peta kabupaten sudah diarsir kuning., yang artinya tidak prioritas mendapatkan irigasi dari saluran pertanian.

” Oleh karenanya kita arahkan untuk menanam jenis tanaman hortikultura. bila tahun-tahun sebelumnya ditanami padi pada MT I. Hasilnya sedikit atau untung tipis karena kan MT satu itu panen raya, jadinya harga anjlok. Maka lebih baik kita sarankan ke petani untuk tanam hortikultura ,” ujar Sadiyoningsih, PPL Kecamatan kota, didampingi Eko Mimin, koordinator PPL kecamatan Kota, Rabu (6/9/17).

Tanaman holtikultura bisa diartikan sebagai tanaman yang dibudidayakan di sekitar rumah atau kebun, Istilah hortikultura saat ini sering digunakan untuk menyebut beberapa jenis tanaman yang bisa dibudidayakan.” Jadi prosesnya meliputi pembibitan, kultur jaringan, panen, pengemasan dan distribusi. Sistem hortikulturan sering digunakan dalam proses pertanian modern. Hortikultura terbagi menjadi beberapa jenis yakni Frutikultur, Florikultura, Olerikultura, Biofarmaka,” ujarnya.

“Jenis tumbuhan hortikultura bisa berupa jenis tanaman sayur atau olerikultura. Tanaman buah yang biasanya untuk menanamnya memerlukan beberapa syarat tertentu danTanaman bunga serta tanaman obat atau biasanya juga disebut dengan tanaman toga (tanaman obat keluarga),” tuturnya.

Menurut Sadiyoningsih, lahan di sebelah timur gedung BPP Kecamatan kota itu luasnya 6 hektar. Saat ini dikelola oleh 12 orang petani dengan sistem sewa karena milik aset pemda Kudus. Sekarang ditanami pisang, timun, jagung, melon, cabai dan semangka. Selain itu juga ada yang berternak kambing dan ayam serta kolam lele. Ini memang kita upayakan sebagai memaksimalkan lahan.

“ Semua pupuk di pertanian sini menggunakan pupuk organik yang dibuat posluhdes, ketuanya Hesti Tunggal. Kalau disini panggilanya pak Titung. Para petani diajari bikin MOL untuk jadi pupuk ,” tukasnya.

“ Lahan aset pemda meski sudah masuk arsir kuning tetap difungsikan sebagai lahan pertanian dengan sistem terbaru. Misalnya sebagai lahan edukasi dan pusat pembibitan untuk masyarakat. Bahkan kalau lebih jauh, bisa menjadi lokasi agrowisata Kudus. Posisinya berada di tengah kota dan strategis.

Nanti kalau anak-anak sekolah ingin belajar tentang pertanian bisa datang secara rombongan. Konsep pertanian juga dilakukan dengan sistem terbaru untuk perkotaan yang kini sedang trend. Misalnya hidroponik atau aquaponik. Tapi ya itu tadi, catatannya apabila lahan ini oleh pihak aset diserahkan ke Dinas Pertanian dan Pangan untuk dikelola ,” paparnya. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :