Ratusan Warga Kudus Mundur dari Penerima Bantuan Dana PKH

oleh -1.417 kali dibaca
Puluhan warga Desa Getassrabi, Gebog, Kudus saat secara simbolis menyatakan mundur sebagai penerima bantuan PKH dari pemerintah (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – 32 warga Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus hari ini secara simbolis dinyatakan telah telah lulus dan mengundurkan diri dari kategori keluarga miskin penerima bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) di Kudus.

Mereka mengundurkan diri dengan sukarela serta menandatangani surat pernyataan mundur karena dinilai telah berhasil memperbaiki taraf kehidupan ekonominya.

Mundurnya puluhan warga Getassrabi ini merupakan bagian dari ratusan keluarga penerima manfat (KPM) di Kabupaten Kudus yang juga telah mengundurkan diri sebagai penerima bantuan sosial program keluarga harapan (PKH).

Koordinator Pendamping PKH Kabupaten Kudus, Habib Rifai mengatakan dari Januari hingga April 2021 ada 146 KPM yang mengundurkan diri. Ditambah 32 KPM dari Desa Getasrabi, jadi total 178 KPM.

“Mereka mengundurkan diri lantaran menganggap sudah tidak lagi masuk kategori warga miskin,” ujar Habib disela-sela upacara simbolis graduasi mandiri di Balai Desa Getassrabi, Minggu (11/04/2021).

Menurutnya Program Keluarga Harapan (PKH) digadang sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Namun demikian, Keluarga penerima manfaat (KPM) PKH didorong untuk bisa segera menjadi KPM PKH graduasi mandiri. 

“KPM PKH Graduasi mandiri adalah KPM yang berakhir kepesertaan KPM PKH karena kondisi sosial ekonomi yang sudah meningkat,” terangnya.

Mundurnya penerima bantuan itu dikarenakan malu dengan kondisi sebenarnya. Karena status sosial mereka seharusnya warga mampu, bukan lagi keluarga miskin. Sehingga mereka selayaknya tidak lagi berstatus sebagai keluarga penerima manfaat PKH.

“Kesadaran sosial. Malu juga, mereka sudah mampu masih dapat bantuan. Di luar masih banyak keluarga lain yang lebih membutuhkan,” ungkap Habib.

Selain faktor kesadaran sosial, pendamping PKH juga melakukan seleksi. Dimana KPM yang mengalami penurunan jumlah tanggungan juga akan didaftarkan untuk menjalani graduasi.

Fatonah, 50 tahun, menunjukkan surat pernyataan pengunduran diri dari KPM PKH atas dasar kesadaran diri karena merasa status perekonomiannya kini sudah membaik (Foto: YM)

Saat ini, lanjut Habib, total keanggotaan PKH di Kudus ada sekitar 21.828 KPM. Dimana setiap tahunnya ditargetkan 10 persen diantaranya ditargetkan mengalami kenaikan status ekonomi.

“Terget nasional kelulusan KPM setiap tahunnya sebesar 10 persen. Namun, Kudus mentargetkan 20 persen setiap tahunnya,” ujar Habib pada sejumlah awak media.

Tingginya kesadaran masyarakat Kudus untuk mengundurkan diri dari keanggotaan PKH dinilainya baik. Mengingat masih ada banyak keluarga miskin yang belum tersentuh bantuan.

“Biar bantuan yang ada bisa merata. Tidak hanya dinikmati orang itu-itu saja,” katanya.

Terpisah, Fatonah, 50 tahun, warga Desa Getasrabi mengaku mundur dari KPM PKH atas dasar kesadaran diri. Terdaftar sebagai KPM PKH mulai tahun 2013, ibu empat anak itu merasa status perekonomiannya kini sudah membaik.

“Dulu saya dan suami hanya buruh tani. Alhamdulillah sekarang, kami sudah mampu menyewa ladang dan bertani secara mandiri. Tanggungan keluarga saya juga tinggal dua. Makanya saya memilih mundur dari keanggotaan PKH,” tuturnya.

Kemunduran Fatonah dari KPM PKH diharapkannya dapat memberi kesempatan bagi warga miskin lain untuk menikmati bantuan dari pemerintah tersebut. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.