KUDUS, ISKNEWS.COM – Bermain rebana menjadi pengalaman baru yang dirasakan peserta program pertukaran pelajar di SD 4 Loram Kulon pada hari pertama kegiatan, Senin (27/7/2026). Ekstrakurikuler unggulan tersebut diperkenalkan sebagai salah satu cara mengenalkan budaya sekolah sekaligus membantu para siswa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Empat murid dari SD 2 Getaspejaten yang mengikuti program pertukaran pelajar tampak antusias saat diajak mencoba memainkan rebana. Meski belum pernah memegang alat musik tersebut, mereka tetap bersemangat mengikuti arahan dari siswa-siswi SD 4 Loram Kulon yang telah terbiasa memainkan rebana.
Salah seorang peserta, Ayas, mengaku pengalaman itu menjadi momen yang paling berkesan selama mengikuti kegiatan hari pertama di sekolah tujuan. Baginya, belajar rebana memberikan pengalaman berbeda dibanding aktivitas yang biasa dilakukan di sekolah asal.
“Belum pernah bermain rebana, ini baru pertama kali,” ujar Ayas, siswa kelas V SD 2 Getaspejaten.
Selain mencoba rebana, para peserta juga mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Mereka diperkenalkan kepada kepala sekolah, guru, wali kelas, hingga teman-teman baru yang akan mendampingi selama program pertukaran pelajar berlangsung.
Ayas mengatakan suasana yang hangat membuat dirinya cepat merasa nyaman meski baru pertama kali datang ke SD 4 Loram Kulon. Ia pun mulai menjalin pertemanan dengan siswa-siswi di sekolah tersebut.
“Rasanya senang bisa kumpul, ini baru separuh kenal,” katanya.
Kepala SD 4 Loram Kulon, Ikha Aji, menjelaskan pengenalan ekstrakurikuler pada hari pertama sengaja dilakukan agar peserta dapat mengenal karakter dan keunggulan sekolah. Selain rebana, peserta juga diajak melihat berbagai kegiatan lain seperti pramuka, wushu, komputer, dan sepak bola putri.
“Kami memperkenalkan bapak ibu guru, wali kelas, teman-teman, sekaligus mengenalkan ekstrakurikuler unggulan seperti rebana, pramuka, wushu, komputer, hingga sepak bola putri. Kami ingin anak-anak dari SD 2 Getaspejaten merasa seperti berada di sekolahnya sendiri,” ujarnya.
Ikha menambahkan, program pertukaran pelajar akan berlangsung hingga 8 Agustus 2026. Selama hampir dua pekan, masing-masing sekolah saling mengirim empat murid untuk belajar, bertukar pengalaman, sekaligus mengenal budaya sekolah yang berbeda.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, berharap para peserta mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerap berbagai pengalaman positif. Menurutnya, minggu pertama menjadi masa penyesuaian, sedangkan minggu berikutnya diharapkan menjadi waktu bagi peserta untuk membawa pulang praktik-praktik baik ke sekolah asal.
“Mudah-mudahan hari pertama tidak menimbulkan jetlag bagi anak-anak. Minggu pertama adaptasi, minggu kedua mengambil pelajaran dan budaya yang bisa dibawa ke sekolah masing-masing,” katanya.
Program pertukaran pelajar yang digagas Pemerintah Kabupaten Kudus ini diharapkan dapat mempererat hubungan antarsekolah, memperkaya pengalaman belajar siswa, sekaligus mendorong pemerataan mutu pendidikan melalui pertukaran budaya dan praktik baik. (AS/YM)







