Revitalisasi Pabrik Tak Kunjung Usai Jadwal Giling Molor Terus, Karyawan PG Rendeng Gelar Unjuk Rasa

oleh -232 Dilihat
Suasana unjukrasa karyawan PG Rendeng Kudus, menuntut kejelasan penyelesaian proyek revitalisasi, karena mengganggu jadwal giling (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Ratusan karyawan Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus, menggelar aksi unjuk rasa di dalam lingkungan Pabrik milik PTPN IX  tersebut untuk menuntut pihak manajemen dan pihak rekanan perusahaan segera menyelesaikan proyek revitalisasi PG Rendeng yang kini tengah dikerjakan oleh pihak ketiga yakni PT Wika Barata.

Dari pantauan isknews.com di lapangan, aksi demo yang diikuti oleh karyawan berlangsung mulai pukul 08.30 WIB dengan sebagian besar berseragam atasan putih ini berjalan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, mereka berdiri berjajar dengan jarak tertentu lalu keoordinator lapangan dan para orator yang disiapkan melakukan orasi tuntutan-tuntutan mereka kepada wakil perusahaan rekanan PG Rendeng, PT Wika Barata.

Selain itu, mereka juga menempelkan puluhan poster bernada tuntutan , serta memakirkan alat berat sejenis eksavator di halaman pabrik setempat, Rabu (23/06/2021).

Ditemui usai aksi, Kuwat Riyadin, koordinator aksi mengungkapkan, tuntutan karyawan dilakukan karena pengerjaan proyek revitalisasi mesin PG Rendeng yang dikerjakan PT Wika Barata, tak kunjung selesai. Akibatnya proses giling yang semestinya bisa dilaksanakan pertengahan bulan ini tidak kunjung terealisasi.

“‘’Kami menuntut agar pekerjaan revitalisasi ini segera diselesaikan. Yang dirugikan adalah semua karyawan PG Rendeng terutama bagian on farm yang harus menyiapkan bahan baku tebu,” katanya.

Kuwat juga menyatakan, pihak KSO dinilai telah menyalahi kesepakatan yang sudah dibuat bahwa PG Rendeng akan siap beroperasi di pertengahan bulan ini.

“Keterlambatan ini membuat banyak tebu Kudus yang lari ke daerah lain. jika PG Rendeng gagal giling tahun ini, seluruh karyawan akan dirugikan,” ujarnya.

Senada, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Unit PG Rendeng, Edi Wantoro mengatakan, aksi demo ini digelar secara spontan oleh para karyawan PG Rendeng. Sebab pelaksana proyek revitalisasi PG Rendeng tersebut, hingga kini belum mampu menyelesaikan pekerjaannya.

“Sebelumnya PT Wika Barata berjanji, akan menuntaskan pekerjaan yang dimulai sejak 2019 lalu itu pada 7 Juni 2021 lalu. Namun sampai batas waktu yang ditentukan, ternyata tidak dapat memenuhi janjinya. Kemudian kembali meminta kelonggaran waktu sampai 15 Juni 2021,” ungkapnya.

Lagi-lagi, sambungnya, PT Wika Barata tidak dapat memenuhi janjinya. Sehingga kembali dilaksankan rapat koordinasi, yang dihadiri perwakilan karyawan dan petani, dan manajer PG Rendeng. Hasil dari rapat tersebut, pelaksana proyek revitalisasi PG Rendeng kembali meminta kelonggaran sampai 20 Juni 2021 lusa kemarin.

‘’Tetapi sampai sekarang belum juga ditepati, dan itu sudah melanggar perjanjian. Sehingg kami spontan menggelar demo ini,’’ paparnya.

Edi menambahkan, selain menuntut percepatan penyelesaikan proyek revitalisasi PG Rendeng, para karyawan juga meminta kompensasi kepada PT Wika Barata. Sebab, akibat keterlambatan ini, banyak peluang yang hilang seperti bahan bahu tebu dan suber daya manusia (SDM).

‘’Disini adalah ladang kami untuk memproduksi gula. Kalau tidak giling, bagaimana nasib kita kedepan,’’ tandasnya.

Terpisah, Direktur Operasi PT Barata, Bobby Sumardiat memastikan, proyek revitalisasi PG Rendeng ini akan dituntaskan pada 27 Juni 2021 mendatang. Sehingga pada tanggal 30 Juni 2021 mendatang, PG Rendang sudah bisa melakukan persiapan giling tebu.

‘’Kami apresiasi semangat para karyawan itu. Karena PG Rendeng menjadi kebanggan masyarakat. Terutama petani tebu,’’ tuturnya.

Disinggung soal keterlambatan revitalisasi PG Rendeng, Bobby menjelaskan, permasalahan itu terjadi akibat power plant di internal PG Rendeng yang belum stabil. Namun pihaknya memastikan, semua akan diselesaikan dalam beberapa hari kedepan.

‘’Jadi, kami pastikan tanggal 30 Juni 2021 sudah bisa giling,’’ tutupnya. (YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.