RTMM : Kenaikan Cukai Tarif Rokok 10 Persen, Justru Dongkrak Kinerja Buruh Rokok SKT

oleh -1,365 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Tahun 2024 pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 10 persen yang berlaku pada wal bulan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191 Tahun 2022.

Ditingkat buruh rokok, kenaikan tarif cukai ini ternyata justru dinilai mampu meningkatkan produktifitas para pekerja rokok terutama pada jenis rokok sigaret kretek tangan (SKT). Karena banyaknya konsumen rokok produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang akibat kenaikan tarif bandrol perbungkusnya sehingga kini beralih pada rokok SKT.

Hal ini disampaikan oleh Bambang Sugianto selaku Sekertaris Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) Kabupaten Kudus.

Ia menjelaskan, kenaikan tarif cukai untuk produk SKT tidak terlalu signifikan. Kenaikan tarif cukai yang tinggi, kata dia, terdapat pada produk sigaret kretek mesin (SKM).

“Kenaikan cukai tetap berpengaruh, cuma yang SKT kenaikannya tidak signifikan, yang cukup tinggi itu di SKM. Jadi dari yang kita lihat, adanya kenaikan tarif cukai ini justru produktifitas pekerja rokok jenis SKT masih tinggi,” paparnya, Rabu (11/01/2024).

Dirinya mengungkapkan, meski ada kenaikan tarif cukai, produktifitas SKT justru meningkat. Pihaknya memperkirakan, peningkatan produktifitas SKT ini juga akan terjadi sepanjang tahun 2024.

“Dengan produktifitas yang tinggi ini, kesejahteraan pekerja rokok bisa lebih terangkat,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Kudus Moch. Arif Setijo Noegroho mengatakan,
kenaikan tarif cukai 10 persen tidak menyasar seluruh jenis barang kena cukai.

Ia menjelaskan, Untuk rokok jenis SKT, kata dia, mengalami kenaikan tarif cukai yang sangat sedikit dibandingkan dengan jenis SKM.

Dirinya pun menyebut bahwa pada tahun 2023 ada perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih banyak memilih produk rokok jenis SKT. Hal ini, kata dia, kemungkinan diakibatkan karena harga rokok jenis SKT yang lebih murah.

Oleh karena itu, pihaknya memastikan, meskipun ada kenaikan tarif cukai, tidak akan menyebabkan PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran kepada pekerja rokok.

“Perubahan pola konsumsi ini yang justru meningkatkan produktifitas pabrik rokok SKT. Bahkan saat ini semakin banyak pabrik rokok yang beralih memproduksi SKT dibandingkan SKM,” ungkapnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.