Kudus, isknews.com – Satu pekan jelang puasa Ramadan petani buah melon hidroponik dari green house Prigen Farm yang berada di Desa Besito Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus, telah siap menerima warga yang akan melakukan panen untuk wisata petik melon.
Bagi warga yang berkunjung di green house ini, saat ingin membeli diperbolehkan memilih dan memetik sendiri sebelum ditimbang, bahkan sejumlah petani dan pengelola akan menjelaskan kelebihan-kelebihan dari masing-masing varian melon yang ditanam di tempat ini.
“Ya memang warga yang ingin berkunjung dan berwisata petik melon harus cepat datang kesini, sebelum keduluan para pedagang dari Jakarta, biasanya mereka kan borong melon disini besar-besaran,” ungkap Sulaeman, salah satu petani pengelola di Prigen Farm ini.
Menurut Sulaeman, ada sejumlah ribuan batang pohon melon yang segera siap dipanen karena sudah masanya usia melon dinyatakan cukup untuk dipanen. Sejumlah persiapan seperti mengecek buah yang sebagian besar siap petik, satu persatu di lakukan pengecekan agar tidak ada buah yang ukurannya di bawah ukuran standar atau buah yang kurang baik kondisinya.
Menurut Sulaeman lahan melon yang ia budidayakan ini dalam green house dengan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) ia menanam melon dengan media tanam berupa air ‘full’, yakni dengan menggunakan media rangkaian paralon yang dilubangi inilah air sebagai media tanam beserta nutrisi makanan dipompa secara periodik untuk kebutuhan tumbuh kembang melon ini.
“Dalam satu tahun melon kategori premium fruit yang kami tanam ini dapat dipanen selama tiga kali atau per empat bulan sekali. Dan kami harus menanam bibit melon mulai dari awal lagi karena ciri tanaman yang berbuah diatas pasti tidak akan maksimal reproduksinya kembali, disamping juga telah rentan terhadap penyakit,” jelasnya.
Dilanjutkannya, sehingga pihaknya harus menanam bibit baru kembali agar memperoleh grade terbaik yakni grade A dengan berat ideal 1-1.5 kg sehingga bisa lolos quality control saat dikirimkan ke sejumlah Mal di Jakarta dan Bogor.
“Tentu saja bentuk buahnya harus sempurna, dengan net yang rapat serta tingkat kemanisan 13 persen. Penyakit paling utama menyerang tanaman melon adalah jamur,” ujar Sulaeman saat ditemui di arena green house yang dikelolanya.
Di Prigen Farm green house ini pihaknya menanam tempat varian Jenis buah melon yakni King Show, Sweet Day, Fujisawa dan jenis Pearl Lady.
“Semua kami jual dengan harga Rp 35 ribu per kilogram, kecuali Fujisawa yang merupakan melon dengan kualitas terbaik kami jual dengan harga Rp 40 Ribu per kilogramnya,” ujarnya.
Sulaiman mengaku buah melon ini biasanya di pasarkan di kota besar seperti jakarta dan surabaya, namun dirinya tetap menyisihkan sebagian tanaman untuk di kunjungi warga masyarakat sebagai destinasi agro wisata petik melon.
“Menanam buah melon Jepang ini memeiliki keuntungan yang lebih jika di banding dengan melon konvensional atau dengan cara tanam terbuka. Harganya jauh lebih tinggi dengan rasa yang lebih berkualitas di banding dengan buah melon biasa,” ungkapnya.
Dia menyebut dalam kurun waktu setahun, ia dapat menanam dan memanen Melon 3 kali dengan omset rata-rata Rp 25 juta rupiah setiap kali panen.
Yuda Aulia Rahman (27) warga Prambatan Lor mengaku tertarik kunjungi green house Prigen Farm ini karena penasaran dan rasa ingin tahu mencicipi rasa melon varietas unggul ini dibanding melon sawah biasa, serta sensasi petik sendiri.
“Terlebih menjelang bulan puasa seperti ini biasanya masyarakat tertarik untuk memetik buah melon,” ungkapnya.
Saat mendatangi lokasi, pengelola meminta awak media untuk mencicipi setiap jenis varian melon yang ditanamnya, lalu diminta mebandingkan cita rasa setiap jenis buah melon. Ternyata memang jenis Fujisawa memeiliki banyak kelebihan, disamping tekstur dan rasa juga aroma dan tingkat kemanisan yang istimewa. (YM/YM)











