Kudus, isknews.com – Setangkai bunga dibagikan kepada warga sebagai simbol kepedulian dan penguatan bagi para perempuan dan anak yang menjadi penyintas kekerasan. Aksi gerak bersama penuh makna itu dilakukan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC Kabupaten Kudus Jawa tengah dalam kampanye damai peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak 2025 di area Car Free Day (CFD) Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu pagi (30/11/2025).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan yang berlangsung sejak 25 November hingga 10 Desember. Melalui simbol bunga, WKRI ingin menyampaikan pesan cinta, keberanian, dukungan moral bagi mereka yang pernah terluka akibat kekerasan. Selain itu, setetes bakti gerak bersama dari kita mempunyai andil besar untuk mengembalikan ruang aman bagi perempuan dan anak.
Ketua WKRI DPC Kabupaten Kudus sekaligus Ketua Panitia, Herlina Susiyanti, menegaskan bahwa setiap perempuan dan anak berhak hidup tanpa kekerasan dan diskriminasi. Kampanye ini disebut sebagai momentum untuk mengajak masyarakat lebih peka terhadap kasus kekerasan yang masih terus terjadi.
“Setiap perempuan dan anak berhak untuk hidup bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Hari ini kami mengambil momentum 30 November sebagai bentuk dukungan nyata bagi perempuan dan anak,” ujarnya kepada isknews.com.
Dalam rangkaian kampanye, para peserta tidak hanya melakukan aksi pembagian bunga, tetapi juga memberikan edukasi kepada warga mengenai bentuk-bentuk kekerasan yang kerap terjadi di ranah domestik maupun publik. Menurut Herlina, pembagian bunga dipilih karena kekerasan seringkali terjadi justru di lingkup terdekat.
“Bunga itu tanda cinta. Harapannya masyarakat makin peduli, makin sayang keluarga, anak-anak, dan perempuan. Karena kekerasan itu seringkali dilakukan oleh orang-orang terdekat,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa secara nasional angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih berada pada level mengkhawatirkan. Jawa Tengah tercatat menempati peringkat kedua nasional untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan peringkat ketiga untuk kasus kekerasan terhadap anak.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Dengan posisi Jawa Tengah yang berada di tiga besar nasional, kita harus semakin aware. Harapannya angka kekerasan bisa ditekan, jangan sampai terus meningkat,” tegasnya.
Kegiatan kampanye dimulai dengan senam bersama, dilanjutkan edukasi mengenai bahaya kekerasan, perdagangan orang, dan eksploitasi. Melalui kegiatan ini, WKRI mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama keluarga, untuk lebih peka terhadap potensi kekerasan di sekitar mereka.
“Momentum peringatan ini mengingatkan kita bahwa perlindungan perempuan dan anak adalah tanggung jawab bersama,” ungkapnya.
Herlina menjelaskan, kampanye tersebut merupakan kolaborasi lintas lembaga, di antaranya Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus, JPPA, Senam Tera Indonesia, GOW, dan Rotary Club. Dengan menggandeng berbagai pihak, WKRI berharap pesan anti kekerasan bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
“Kita bekerja sama dengan banyak pihak agar gerakan ini semakin kuat. Intinya, kami ingin mensosialisasikan bahwa perempuan dan anak itu punya hari khusus untuk menguatkan perlindungan,” pungkasnya. (AS/YM)





