Sinergitas Kelompok Peternak Dan Pemkab Optimalkan Produksi

oleh -870 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Kebijakan dan perhatian Bupati Kudus Musthofa pada kelompok ternak kerbau di  Kabupaten Kudus membuat iri para kelompok ternak kerbau se Jawa Tengah. Hal ini terungkap saat para peserta pelatihan agrobisnis ternak kerbau melakukan kunjungan Studi banding di Kelompok Ternak Kerbau Maeso Suro di Dusun Goleng Desa Pasuruhan Lor Kecamatan Jati, Kamis (24/08/17).

BIKIN IRI. Catur Sulistiyanto bersama Tuhu Sulistiyo, Kepala Balai Pengembangan SDM Peternakan Jawa Tengah berjalan di atas jalan cor menuju kawasan kandang Kerbau Maeso Suro yang bikin iri peternak Kabupaten Lain.

Rombongan dipimpin Tuhu Sulistyo, Kepala Balai Pengembangan SDM Peternakan Provinsi Jawa Tengah, membawa 30 peternak kerbau dari seluruh Jawa Tengah dan diterima langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Catur Sulistiyanto S.Sos MM, didampingi drh Sa’diyah, Kabid Peternakan serta Dwi Listyani (Kasie Usaha Sarana dan Prasarana Peternakan) dan Sidi Pramono ( Kasie Produksi dan Kesehatan Hewan).

Tuhu Sulistyo mengungkapkan bahwa acara pelatihan diselenggarakan sejak Senin (21/08) sampai Jumat (25/08). Pada hari Kamis (24/08) melakukan praktik dan studi banding lapangan ke Kudus.

“ Selain kemarin memperoleh juara II tingkat Jawa Tengah. Perhatian dari pemerintahnya juga kita nilai sebagai yang terbaik di Jateng. Sebab, di era sekarang ini peternakan tidak hanya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, tetapi juga harus bersinergi dengan pemerintahnya.

Suasana disini menunjukkan bukti kepedulian pemerintahnya. Pertimbangan lainnya adalah disini kandangnya berkelompok dan jauh dari perumahan masyarakat. Berbeda dengan daerah lain yang masih menyatu. Jadi ini contoh yang baik ,” kata Tuhu Sulistyo.

” Jadi kita menangnya karena anggota kami rata-rata berumur 18-20 tahun. Saya yang paling tua berumur 28 tahun. Selain itu juga menang kondisi kandangnya terbuka (point tinggi), kalau disini kan tertutup ( mengurangi nilai).

Dan di tempat kami pakan kerbaunya dari rumput segar, bukan jerami kering seperti disini ,” ucap Junedi.Pernyataan ini dibenarkan oleh Junedi, Ketua poknak Pankker Jaya dari Kabupaten Tegal yang kemarin memperoleh Juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Dia mengaku bila kemenangannya diperoleh dari pertimbangan anggota poknak masih muda dan anggota 55 orang. Hal ini berbeda dengan Maeso Suro Kudus, peraih Juara II yang anggotanya mayoritas berumur tua dan 26 orang.

“ Tetapi terus terang, kami iri dengan poknak sini yang mendapat perhatian dari pemerintahnya yaitu pak Bupati Musthofa. Jalan menuju kandang sudah dibuatkan cor. Berbeda dengan kawasan kami yang masih tanah. Kalau hujan ya becek ,” imbuhnya dengan nada Tegal.

Lebihlanjut Junedi ingin mendapatkan ilmu bagaimana caranya supaya kelompoknya juga mendapatkan perhatian dan bantuan fasilitasi dari pemerintahnya. Sebab selama ini ketika mengajukan bantuan tidak mendapatkan persetujuan.

ANTUSIAS. Para peternak peserta pelatihan agribisnis ternak kerbau berebutan berpose di depan kandang jepit kerbau milik poknak Maeso Suro.

Menanggapi hal ini, Catur Sulistiyanto, Kadispertanpangan Kudus, mengungkapkan bahwa Bupati Musthofa memerintahkan dirinya untuk selalu hadir di tengah masyarakat dibawah Dinas Pertanian. Sehingga bisa mendengarkan masalah dan menemukan solusi. Supaya masyarakat semakin sejahtera.

Lebihlanjut diakui masih terdapat kekurangan sehingga belum bisa meraih juara I. Antara lain karena kondisi kandang yang tertutup rapat, padahal sesuai aturan baku adalah model terbuka atau semi terbuka.

Selain Junedi, peternak peserta pelatihan adalah Nurhuda, peternak kerbau dari Welahan Jepara.

“ Enak ya jadi peternak disini, itu dibangunkan embung di tengah-tengah kawasan kandang. Jadi kalau musim kemarau tidak kesulitan air. Sebab sungai pasti dangkal airnya. Kami dari Jepara tidak ada perhatian seperti ini. Nanti mau belajar dengan ketuanya Maeso Suro caranya mendapatkan bantuan dari Bupati ,” cetus Nurhuda.

CURHAT. Junedi, Ketua Poknak Kerbau Warurejo Kabupaten Tegal, yang juara I Prov Jateng tapi tidak mendapatkan perhatian pemerintah seperti di Kudus.

“ Dan ditempat kami kandangnya di pinggir saluran irigasi, tidak seperti disini milih tanah desa ,” sambungnya.

Suparyami, satu-satunya peserta wanita, asal Mijen Kota Semarang, mengaku berharap kelompoknya juga bisa membuat kawasan kandang kerbau seperti milik Maeso Suro.

“ Kandang-kandang milik anggota kami ya dibelakang rumah masing-masing. Kalau ada tamu datang sering juga merasakan bau kotoran kerbau. Ini hasil belajar kesini kita foto-foto untuk diajukan ke kepala daerah kami ,” ujar Suparyami sambil malu-malu.

Sa’diyah, Kabid Peternakan Dispertanpangan Kudus, memberikan tips agar mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.

“ Sering datang dan berkomunikasi dengan dinas terkait setempat. Sebab kalau tidak kenal tentu tidak sayang kan. Pengurus Maeso Suro ini sering komunikasi dan konsultasi bagaimana penanganan hewan ternaknya. Semoga nanti ilmu yang dari sini bisa menambah untuk kemajuan bapak ibu semua ,” terang Sa’diyah.(YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :