Sita Perhatian, Cahya Nojorono Jadi Tari Pembuka Kirab Budaya Khas Jawa Tengah di TMII

oleh -1,755 kali dibaca
Pra penari Cahya Nojorono saat usai tampil dalam Kirab Budaya Jawa Tengah di TMII Jakarta (Foto: istimewa/NTI)

Kudus, isknews.com -Setelah sebelumnya resmi diperkenalkan perdana di April 2024 di Kudus. Tari Cahya Nojorono melanjutkan perjalanannya dengan hadir di perhelatan Kirab Budaya Khas Jawa Tengah di Anjungan Jawa Tengah TMII (Minggu 12/5) lalu.

Keunikan Tari Cahya Nojorono yang sarat akan makna filosofis, ditampilkan sebagai tarian pembuka acara Kirab Budaya dan sukses menyita perhatian pengunjung TMII yang sedang berlibur di akhir pekan.

Perhelatan Kirab Budaya Khas Jawa Tengah yang turut menggandeng deretan UMKM binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, sekaligus menjadi ajang promosi Caping Kalo sebagai warisan budaya Kudus, yang dipersembahkan Nojorono Kudus melalui pagelaran tari semi kolosal.

Kolaborasi Nojorono Kudus bersama PemKab Kudus merupakan simbol keseriusan pemerintah dan komitmen bersama dalam upaya pelestarian Caping Kalo.

“Kami senang melihat antusiasme masyarakat yang hadir ke acara Kirab Budaya hari ini dan menikmati suguhan Tari Cahya Nojorono. Kedepannya, kami berharap masih banyak lagi panggung yang bisa kami jajaki untuk bisa memperkenalkan, sekaligus melestarikan warisan budaya Caping Kalo.” jelas Arief
Goenadibrata selaku Direktur PT Nojorono Tobacco International.

Pertunjukan Tari Cahya Nojorono di TMII ini merupakan gong penanda komitmen Nojorono Kudus dalam meneruskan upaya melestarikan Caping Kalo. Tak menutup kemungkinan, gelaran Tari Cahaya Nojorono akan masuk dalam rangkaian roadshow ke beberapa kota di sepanjang tahun 2024 nanti.

Besar harapannya, koreografi tari besutan Didik Nini Thowok tersebut, dapat menghibur dan menginspirasi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus mendorong semangat setiap individu akan pentingnya melestarikan warisan budaya, khususnya Caping kalo.

Dalam kesempatan yang sama, perhelatan Kirab Budaya Jawa Tengah juga menampilkan pementasan drama kolosal; Kayu Naga Gunung Muria, Dolanan Anak, hingga gelaran bazaar yang memperkenalkan produk ekonomi kreatif khas Kudus.

“Kami ingin memperkenalkan Kudus kepada khalayak lebih luas lewat seni, budaya, maupun pariwisatanya. Hal ini guna menarik minat masyarakat untuk bisa menikmati segala potensi yang Kudus punya.” tutup Mutrikah selaku Kepala Disbudpar Kudus. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.