Kudus, isknews.com – Kegiatan di Car Free Day (CFD) Simpang Tujuh pada Minggu (7/12/2025) menjadi ajang bagi sebuah sekolah vokasi di Kudus untuk menunjukkan bahwa mereka bukan hanya bergerak di bidang pendidikan, melainkan juga mampu memproduksi berbagai karya melalui siswa-siswanya, yakni SMK NU Ma’arif Kudus.
Kepala SMK NU Ma’arif Kudus, Arif Zaenal Mubarok, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus untuk menepis anggapan bahwa sekolah vokasi hanya fokus pada teori semata. “Selama ini mungkin orang melihat SMK NU Ma’arif itu hanya kaitannya dengan pendidikan. Nah, hari ini kita kenalkan bahwa anak-anak kami mampu memproduksi barang-barang layak jual,” ujarnya.
Menurut Arif, berbagai produk yang dipamerkan merupakan hasil pembelajaran lintas tingkat mulai kelas 10 hingga kelas 12 yang dirakit berdasarkan kompetensi masing-masing siswa. Produk tersebut meliputi teknologi tepat guna, perangkat industri, karya laser cutting, meja, serta berbagai produk logam lainnya. “Nanti dalam satu unit akan di-assembly menjadi satu produk, sesuai kemampuan tiap tingkat. Ini sekaligus membangun kolaborasi antarkelas,” jelasnya.
Arif juga menegaskan bahwa dukungan siswa sangat tinggi karena sekolah menerapkan pola pembelajaran berbasis industri. Dengan model ini, siswa terbiasa bekerja menggunakan standar yang sama seperti di pabrik sehingga tidak kaget ketika terjun ke dunia kerja. “Target kami, 80 persen lulusan terserap di industri. Sisanya 20 persen kami dorong melalui jalur entrepreneurship dengan menjual atau memasarkan produk buatan mereka sendiri,” katanya.
Saat ini SMK NU Ma’arif memiliki 1.954 siswa dari tujuh kompetensi keahlian: pemesinan, pengelasan, teknik kendaraan ringan, sepeda motor, komputer jaringan, instalasi tenaga listrik, dan otomasi industri. Tahun ini sekolah mengusung tema Teaching Factory (Tefa) Kolaborasi yang melibatkan sejumlah mitra industri, seperti Kawan Lama, Inti Jaya, Karoseri Anak Bangsa, serta Paguyuban Karya Logam Bersama yang menaungi bengkel las di Kudus, Pati, Jepara, dan Demak.
Dinas Perindustrian Apresiasi: Siap Dampingi hingga Tembus Ekspor
Sub Koordinator Industri Kimia Agro dan Hasil Hutan pada Bidang Perindustrian Dinsnaker Perinkop UKM Kudus, Ira Dwi Hapsari, mengapresiasi langkah SMK NU Ma’arif yang telah menerapkan teaching factory sejak kelas 10. Menurutnya, pendekatan ini mampu melahirkan lulusan yang terampil, kompeten, dan memiliki jiwa kewirausahaan.
“Anak-anak sudah dilatih berpikir kreatif, memproduksi, dan mengembangkan produk yang memiliki daya saing. Ini sangat luar biasa. Harapannya, ketika lulus mereka siap menjadi wirausaha,” ujarnya.
Ira menyebut pihaknya akan mendampingi pengembangan produk SMK NU Ma’arif, termasuk fasilitasi perizinan berusaha, TKDN, hingga sertifikasi kompetensi kerja bagi alumni. “Produk-produk mereka berpotensi menembus pasar ekspor. Tinggal kita bantu perizinan agar unit produksinya memiliki legalitas sehingga lebih kompetitif,” tambahnya.
Ia juga menilai ketelitian dan presisi siswa SMK NU Ma’arif sudah sangat baik, terutama dalam industri logam yang membutuhkan akurasi tinggi. Beberapa produk dinilai menjawab kebutuhan masyarakat, seperti mesin pengolah sampah dan desain furnitur kecil, termasuk meja belajar yang potensial dipasarkan di Kudus.
Dorongan untuk Seluruh SMK di Kudus
Ira berharap inovasi serupa dapat menginspirasi SMK lain di Kabupaten Kudus untuk lebih kreatif dan progresif. “Kami selalu mendorong seluruh SMK agar menghasilkan produk-produk yang bermanfaat, presisi, dan memiliki daya saing, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga internasional,” tegasnya.
Dengan pameran ini, SMK NU Ma’arif Kudus diharapkan semakin dikenal sebagai sekolah vokasi yang tidak hanya mendidik, tetapi juga memproduksi dan mengembangkan karya nyata sesuai kebutuhan industri. (AS/YM)







