SMPN 1 Jati Jalani Visitasi, Tujuh Sekolah di Kudus Bersaing di Lomba Sekolah Sehat

oleh -553 Dilihat
Tim penilai Lomba Sekolah Sehat (LSS) Kabupaten Kudus 2026 melakukan visitasi dan verifikasi lapangan di SMPN 1 Jati, Kamis (11/6/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tahapan penilaian bagi tujuh sekolah yang lolos seleksi administrasi untuk memperebutkan predikat sekolah sehat terbaik di Kabupaten Kudus. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – SMPN 1 Jati menjadi salah satu dari tujuh sekolah yang saat ini tengah bersaing dalam Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat Kabupaten Kudus Tahun 2026. Pada Kamis (11/6/2026), sekolah tersebut menjalani tahap visitasi dan verifikasi lapangan dari tim penilai sebagai bagian dari proses penentuan sekolah sehat terbaik.

Sebelumnya, sebanyak 12 sekolah mengikuti seleksi administrasi dalam ajang tahunan tersebut. Namun, hanya tujuh sekolah yang berhasil melaju ke tahap berikutnya, yakni SMPN 1 Mejobo, SMPN 4 Bae, SMPN 2 Jekulo, SMP Muhammadiyah 1 Kudus, SMPN 1 Kaliwungu, SMPN 1 Jati, dan SMPN 2 Jati.

Tim penilai kini melakukan kunjungan langsung ke masing-masing sekolah peserta sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencocokkan dokumen administrasi dengan kondisi nyata di lapangan sekaligus menilai implementasi program kesehatan yang dijalankan sekolah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Edi Kusworo menjelaskan bahwa Lomba Sekolah Sehat menjadi sarana untuk mendorong terbentuknya budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan pendidikan.

Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini sehingga menjadi budaya yang melekat pada warga sekolah,” ujar Edi saat melakukan penilaian di SMPN 1 Jati.

Ia menuturkan, terdapat sejumlah indikator yang menjadi perhatian dalam penilaian. Tidak hanya menyangkut kebersihan lingkungan, tetapi juga pengelolaan kesehatan sekolah, edukasi kesehatan kepada siswa, hingga kualitas layanan kesehatan yang tersedia di sekolah.

Menurutnya, keberadaan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang berfungsi optimal menjadi salah satu aspek penting yang dinilai. Selain itu, kondisi lingkungan yang mendukung kesehatan peserta didik juga menjadi pertimbangan tim penilai.

Edi menambahkan, proses penilaian dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai instansi terkait agar hasil yang diperoleh lebih objektif dan menyeluruh.

Tim penilai terdiri dari empat unsur dan melibatkan lintas sektor, termasuk Dinas Pendidikan serta Kementerian Agama,” katanya.

Ia menyebutkan, penyelenggaraan Lomba Sekolah Sehat setiap tahun merupakan bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan kepada satuan pendidikan. Konsep kompetisi dipilih agar sekolah lebih bersemangat dalam menjalankan program-program kesehatan.

Pembinaan tetap berjalan, tetapi dikemas dalam bentuk lomba supaya sekolah lebih antusias dan termotivasi untuk terus berkembang,” ungkapnya.

Setelah seluruh rangkaian visitasi selesai, masing-masing sekolah akan memperoleh masukan dari tim penilai. Catatan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi guna meningkatkan kualitas program kesehatan di sekolah.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Jati, Sumaryatun, mengatakan bahwa penerapan perilaku hidup bersih dan sehat telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari siswa di sekolahnya.

Ia mencontohkan kebiasaan mencuci tangan yang diajarkan secara benar kepada peserta didik. Menurutnya, siswa tidak hanya diminta mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, tetapi juga dibimbing mengenai tahapan yang tepat agar manfaatnya maksimal.

Untuk cuci tangan ada gerakannya. Jadi anak-anak tidak sekadar membasahi tangan dengan air dan sabun, tetapi juga memahami langkah-langkah yang benar dan membiasakannya setiap hari,” jelasnya.

Selain itu, sekolah juga membangun kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui kebiasaan memilah dan membuang sampah sesuai jenisnya. Langkah tersebut dilakukan untuk menciptakan suasana sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah. (AS/YM)