Suronan Fest Jepangpakis Kudus Sajikan Keramaian Seni Hiburan Hingga Beragam UMKM

oleh -217 Dilihat
Foto saat di lokasi keramaian Suronan Fest 2025. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Perpaduan hiburan rakyat, pelestarian tradisi, dan geliat ekonomi lokal menjadi daya tarik utama dalam gelaran Suronan Fest Jepangpakis 2025. Bertempat di Pasar Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, acara yang berlangsung selama tiga hari sejak Selasa hingga Kamis (8–10 Juli 2025) ini menyajikan beragam suguhan mulai dari pertunjukan seni hingga 100 lebih stand UMKM yang memadati area bazar.

Hari pertama Suronan Fest dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Jepangpakis, Sakroni, dan dihadiri warga Jepangpakis dan sekitarnya. Sejumlah tokoh turut hadir, seperti Camat Jati Much Zainuddin dan anggota DPRD Kudus Muhtamat. Pembukaan dimeriahkan dengan penampilan seni tari dari siswa-siswi dari PAUD hingga SD/MI di Jepangpakis serta atraksi dari sejumlah organisasi dan sponsor.

Dalam sambutannya, Sakroni menyampaikan harapan besar terhadap peran Suronan Fest sebagai pemicu perputaran ekonomi desa. “Semoga menjadi pendongkrak rezeki. Saat ini perekonomian sedang menurun, dan kegiatan seperti ini bisa mengangkat kembali semangat jual-beli warga, terutama pelaku usaha kecil,” ujarnya.

Bazar UMKM yang menjadi bagian penting dari festival ini, lanjut Sakroni, menampilkan berbagai produk lokal, kuliner, dan kerajinan. Antusiasme pengunjung pun luar biasa. Kupon undian doorprize sebanyak 1.000 lembar ludes hanya dalam satu hari.

“Alhamdulillah, hari pertama sangat meriah, bahkan di luar ekspektasi kami. Stand-stand penuh sesak oleh pengunjung,” kata Sakroni bangga.

Kesuksesan acara ini tak lepas dari kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Panitia pelaksana terdiri dari Karang Taruna, IPNU-IPPNU, dan didukung penuh oleh Pemerintah Desa Jepangpakis, Banom NU, UPZIS, P3B, serta sejumlah sponsor.

“Ini sudah ketiga kalinya kami gelar. Harapannya, Suronan Fest bisa jadi agenda tahunan, karena terbukti menumbuhkan semangat gotong royong dan geliat ekonomi masyarakat,” harapnya.

Sakroni menilai kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian adat dan budaya lokal, khususnya melalui rangkaian Buka Luwur Mbah Abdul Karim, tradisi sakral di Jepangpakis yang menghormati leluhur dan tokoh desa terdahulu.

“Festival ini bukan sekadar ramai-ramai, tapi juga sarat makna budaya dan nilai kebersamaan,” tutupnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :