Tak Sekadar Pindah Sekolah, Program Pertukaran Guru dan Pelajar Kudus Bidik Dampak Nyata

oleh -659 Dilihat
Kepala SMP 2 Gebog, Ahadi Setiawan saat memberikan arahan. (Foto: ist)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Program pertukaran guru dan pelajar yang mulai dijalankan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus tidak hanya bertujuan memberikan pengalaman belajar di sekolah lain. Lebih dari itu, program tersebut dirancang untuk menghadirkan dampak nyata terhadap pemerataan kualitas pendidikan sekaligus meningkatkan kompetensi guru dan hasil belajar siswa.

Program yang merupakan gagasan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris itu resmi dimulai pada Senin (27/7/2026). Sebanyak 290 siswa jenjang SD dan SMP serta 62 guru SMP mengikuti kegiatan tersebut dengan melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah tujuan selama masa pertukaran berlangsung.

Melalui program tersebut, para siswa diajak mengenal lingkungan belajar yang berbeda, sementara para guru diberi kesempatan mempelajari metode pembelajaran dari sekolah lain. Pengalaman yang diperoleh nantinya diharapkan dapat diterapkan kembali di sekolah asal untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan pertukaran guru difokuskan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Kedua mata pelajaran tersebut dipilih karena memiliki peran penting dalam peningkatan capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Menurut Anggun, guru yang ditempatkan di sekolah dengan capaian akademik lebih tinggi dapat mengamati secara langsung berbagai strategi pembelajaran yang terbukti efektif. Praktik-praktik tersebut kemudian diharapkan menjadi referensi untuk diterapkan sesuai kondisi di sekolah asal.

Ada beberapa sekolah yang nilai Bahasa Indonesia dan Matematikanya sangat bagus. Teman-teman guru bisa melihat praktik baik apa yang diterapkan di sana, kemudian diimplementasikan di sekolah asal,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap sekolah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga metode pembelajaran tidak bisa diterapkan secara seragam. Faktor seperti kondisi peserta didik, lingkungan sekolah, hingga ketersediaan sarana dan prasarana menjadi pertimbangan dalam mengadopsi strategi yang diperoleh selama program berlangsung.

Karena itu, para guru didorong untuk memilih dan menyesuaikan praktik terbaik yang paling relevan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Dengan cara tersebut, hasil program pertukaran diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman semata, tetapi benar-benar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Goals-nya guru, indikatornya nanti kami berharap hasil TKA maksimal. Mereka saling bertukar metode pengajaran dan cara penyampaian materi agar anak lebih cepat menangkap dan memahami pelajaran,” jelasnya.

Selain menjadi sarana peningkatan kompetensi guru, program ini juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk merasakan suasana belajar di sekolah lain. Melalui pengalaman tersebut, mereka diharapkan memperoleh wawasan baru, memperluas pergaulan, serta termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar di sekolah asal.

Sementara itu, Kepala SMP 2 Gebog, Ahadi Setiawan, mengatakan sekolahnya mengawali pelaksanaan program dengan memperkenalkan para guru peserta pertukaran kepada seluruh warga sekolah. Langkah tersebut dilakukan agar para guru dapat lebih cepat beradaptasi sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar di kelas.

Hari pertama kita awali dengan pengenalan guru, jadi sebelum bertemu anak, kita ajak guru untuk berjabat tangan dan kenal akrab agar nyaman dengan suasana sekolah,” katanya.

Ia berharap suasana yang hangat sejak hari pertama dapat membantu peserta pertukaran menjalankan proses pembelajaran dengan lebih optimal. Dengan adaptasi yang baik, program tersebut diharapkan mampu melahirkan inovasi pembelajaran dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi sekolah asal maupun sekolah tujuan. (AS/YM)