Kudus, isknews.com – Terban adalah desa di Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Letak Desa Terban berada di Lereng bukit Patiayam. Patiayam merupakan salah satu tempat yang mengandung fosil di Indonesia. Fosil merupakan sisa-sisa atau jejak makhluk hidup yang berasal dari masa lalu dan telah terawetkan secara alami.
Sejumlah fosil binatang purba ditemukan penduduk setempat seperti kerbau, gajah, dan tulang lain. Fosil gading gajah purba Stegodon merupakan primadona Patiayam. Temuan tersebut membuktikan adanya kehidupan manusia purba maupun binatang purba di kawasan tersebut.
Di zaman ketika embun pagi masih menari di pucuk daun pakis raksasa, jauh sebelum kita menganal desa Terban, ketika sang surya baru saja menyapa bumi dengan sinar keemasannya,disanalah mereka hidup. Manusia purba, dengan tubuh kekar dan tatapan mata penuh misteri, berkelana di lereng bukit Patiayam. Di kaki Gunung Muria, mereka mengukir jejak langkah, mencari buruannya.
Di antara pepohonan yang menjulang tinggi, bayang-bayang raksasa kerap kali menghantui mimpi mereka. Stegodon, sang penguasa hutan, dengan gadingnya yang berkilau bagai bulan purnama, merajai rimba belantara. Tubuhnya yang seukuran bukit kecil membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa kerdil. Namun, bagi manusia purba, Stegodon bukan sekadar ancaman, melainkan juga simbol keberanian dan kemakmuran.
Gading Stegodon, bagaikan tongkat sihir para dewa, dipercaya memiliki kekuatan magis. Maka dari itu, perburuan Stegodon menjadi ritual sakral yang dilakukan oleh para pemburu ulung. Mereka memohon kepada roh-roh leluhur agar diberikan kekuatan dan keberanian dalam menghadapi sang raksasa.
Ketika mentari pagi menyingsing, mereka berangkat menuju hutan belantara. Dengan kapak dan tombak. Di padang rumput yang Muria. Di tengah padang rumput itu, berdirilah Stegodon yang sedang mencari makan dengan kelompoknya. Dengan gagah berani, mereka bersiap untuk menyerang. Yang paling berani di antara mereka, maju ke depan. Dengan kapak di tangan, ia menaklukan Stegodon. Para pemburu bersorak kegirangan. Mereka telah berhasil menaklukkan sang raja hutan. Mereka bersorak gembira.
“Sebuah kisah tentang keberanian dan kekuatan, manusia menantang alam. Sebagai pengingat kita bahwa manusia adalah bagian dari alam, dan kita harus mampu untuk membijaksanai alam dengan kita sebagai penguasanya” ujar Eddy Su selaku sutradara.
Pertunjukkan yang epik di Festival Karnaval Budaya Hari jadi Kudus ke 475 oleh Karang Taruna Kecamatan Jekulo yang berhasil mencuri perhatian dengan ogoh-ogoh stegodon yang begitu besar dengan diiringi gerombolan manusia purba.







