Wagub Jateng : Wacana Kenaikan Tarif Pita Cukai Rokok Tak Berdampak PHK Massal

oleh

Kudus, isknews.com – Menanggapi rencana kenaikan tarif cukai rokok yang akan di berlakukan tahun 2020 depan, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin saat menghadiri Muskab ke VI Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Hotel Gripta, mengatakan bahwa kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok di tahun 2020 mendatang tidak akan berdampak pada PHK massal di sektor industri rokok.

Meski kenaikan cukai sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen, namun menurut Yasin tidak akan berakibat pada PHK massal.

Meski demikian, pihaknya akan menyampaikan semua keluhan dari kalangan pengusaha kepada pemerintah pusat.

“PHK gak lah. Saya ndak dengar. Semua perusahaan ndak ada. Nanti mereka berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan. Ini jangan dibawa ke sana-sana,” kata Wagub, saat ditemui sejumlah awak media usai acara tersebut, Selasa (17/09/2019).

TRENDING :  Penerimaan Cukai Kudus Capai Rp 10,8 Triliun
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin dan Plt Bupati Kudus Hartopo saat menghadiri Muskab ke VI Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Hotel Gripta Kudus (Foto: YM)

Ia mengatakan, dari pemerintah provinsi Jawa Tengah hanya sebatas memberikan saran, termasuk mengakomodir saran dari berbagai pihak. Seperti dari IAIN Kudus, UMK Kudus, Yayasan Darma Bakti Lestari, Apindo, hingga pengusaha rokok, semua saran dan masukan itu akan dijadikan rekomendasi kepada pemerintah pusat.

“Kami akan tetap ada kajian untuk disampaikan. Karena itu merupakan kewenangan dari pemerintah pusat.  “Saran dan masukan beberapa pihak yang memberikan perhatian terhadap industri tembakau di Kudus. Ini akan kami rekomendasikan kepada pemerintah pusat, sehingga menjadi kajian yang utuh,” terangnya.

Seperti yang diketahui pemerintah pusat tengah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen mulai 1 Januari 2020 mendatang. Kenaikan cukai rokok ini juga dibarengi dengan harga jual rokok eceran hingga 35 persen.P

Para buruh lepas saat memnggiling rokok di PR Kembang Joyo Kudus (Foto: YM/YM)

Berbeda dengan yang disampaikan Wabup, kekhawatiran atas dampak rencana kenaikan tarif cukai rokok mulai muncul dari kalangan pengusaha rokok terutama skala kecil. Peter M Faruk, pemilik PR Kembang Arum menilai kenaikan cukai dan HJE tersebut dipastikan akan memukul industri rokok kecil.

TRENDING :  PPRK Dukung Pemerintah Tekan Peredaran Rokok Ilegal

“Yang terkena dampaknya tentu kami dari pengusaha kecil,”kata Peter.

Ditambahkan, kenaikan tarif cukai dan HJE, dipastikan akan membuat biaya operasional produksi melambung. Sementara, untuk menaikkan harga jual ke konsumen adalah sesuatu yang sangat berat karena dikhawatirkan akan menurunkan penjualan.

TRENDING :  Perlengkapan Rumah Tangga Picu Laju Inflasi Pada Subkelompok Perumahan Juli 2016

“Hitungan saya, dengan kenaikan tarif cukai segitu, harga jual kami akan naik sekitar Rp 500 per bungkus. Kenaikan harga tersebut pun sebenarnya masih belum sebanding dengan kenaikan beban produksi akibat tarif cukai,”tandasnya.

Oleh karena itu, Peter hanya berharap kenaikan tarif cukai tersebut tidak diikuti kenaikan harga bahan baku seperti tembakau dan cengkeh. Sehingga, biaya produksi dari pabrikan bisa lebih ditekan.

Disinggung mengenai ancaman PHK massal, kata Peter, diakuinya merupakan hal yang mungkin bisa saja terjadi. Hanya saja, pihaknya masih melihat bagaimana situasinya ke depan nanti. “Kalau memang beban produksi berat, bisa saja ada pengurangan pekerja. Tapi, kami akan lihat situasi ke depan,”tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :