Wakil Rakyat : Kasus 4 Bocah Meninggal di Galian C Ilegal Harus Di Proses Hukum, Ini Bukan Delik Aduan

oleh

Kudus, isknews.com – Meski dinilai terlambat oleh sejumlah pihak. Pasca tragedi meninggalnya 4 bocah dalam rentang usia 13 dan 14 tahun akibat tenggelam dalam sebuah kubangan yang ditinggalkan oleh pengelola di area galian C ilegal di lokasi Galian C di Dukuh Grobok, Desa Klumpit; Kecamatan Gebog, Kudus pada Rabu (22/01/2020) lalu. Siang tadi sejumlah anggota Komisi C DPRD Kudus melakukan kunjungan ke lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Dipimpin oleh Rinduwan, Ketua Komisi C mereka menyusuri lokasi area pertambangan untuk melihat langsung kubangan maut yang menelan 4 nyawa bocah-bocah usia SMP tersebut.

Pada kesempatan tersebut wakil rakyat melihat suasana kubangan yang kini sebagian sudah diurug oleh excavator milik PUPR yang memang diperintahkan oleh Plt Bupati Kudus pada saat kunjungannya di lokasi untuk ditutup dan diurug guna menghindari kejadian korban berikutnya.

TRENDING :  Bukber Jadi Momen Gathering dan Silaturahmi

Disela-sela Sidak, Rinduwan mengatakan bahwa Pemkab Kudus terkait penambangan galian c ilegal harus segera menutup aktivitas liar penambangan ini.

“Kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak yg terkait dengan aktivitas ilegal karena melanggar Perda RT RW, sebab area ini bukan sebagai kawasan peruntukan pertambangan minerba,” ungkapnya didampingi sejumlah anggota komisi C yang lain.

Menurutnya, pelanggaran terhadap Perda RTRW bisa dikenakan sanksi dgn UU 26 thn 2007 ttentang penataan ruang. Pasal 69 ayat 3.

Sementara itu anggota komisi C yang lain Budiyono mengaku geram dengan kegiatan para penambang ilegal yang secara ugal-ugalan telah merusak ekosistem alam dan lingkungan.

TRENDING :  Fashion Show Karshival Apitan Megawon Usung Tema Sampah Membawa Berkah
Sejumlah anggota Komisi C DPRD Kudus, saat sidak di lokasi meninggalnya 4 bocah akibat tenggelam pada kubangan bekas galian c di Desa Klumpit Gebog Kudus (Foto: YM)

“Ini bukan delik aduan, ada ataupun tidak ada laporan, Polri harus tetap bisa memproses hukum, karena sudah menyangkut hilangnya 4 nyawa manusia,” ujar Budiyono.

Sementara itu Jamal Malik aktivis LSM di Kudus, menyesalkan keterlambatan para wakil rakyat itu bersikap terhadap keberadaan galian C ilegal di Kudus.

Menurut Jamal, keluhan dan jeritan warga terkait keberadaan galian C ilegal itu telah lama di teriakkan, bahkan hampir sebagian besar media baik lokal maupun nasional sudah memberitakan tentang hal tersebut.

Jamal Malik, aktivis LSM MPK Kudus (foto: ist)

“Namun para wakil rakyat saat itu tak mengambil sikap apapun, mereka mirip polisi India di filem-filem, selalu datang terlambat, setelah jatuh banyak korban baru bersikap,” sesalnya saat ditemui di Markasnya Sekretariat LSM MPK di Kelurahan Werguwetan Kudus.

TRENDING :  Bupati Kudus Tabuh Bedug Sambut Hari Raya Idul Fitri 1440 H

Terpisah, sebelumnya, Plt Bupati Kudus HM Hartopo, disela – sela meninjau acara Gelar Hasi Tani Kudus 2020 dikantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, menegaskan pihaknya sudah meminta kepada pengelola galian c di Desa Klumpit harus ditutup permanen.

Padahal kata dia, rencana penutupan itu pada bulan Nopember 2019 lalu sudah dikoordinasikan antara pihak – pihak terkait, yakni pengelola galian c, pemdes setempat, Satpol PP, kepolisian serta kecamatan.

Harapannya setengah bulan ini semuanya sudah diurug dan tidak boleh lagi ada aktivitas galian c ditempat itu. Selain itu pihaknya juga sudah meminta kepada Kapolres bila dalam kasus galian c ada unsur pidananya, agar ditindaklanjuti. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :