Warga Tumpangkrasak Kesal, Keluhkan Setahun Listrik Byar-Pet, Mobil Armada PLN Disandera

oleh -2,174 kali dibaca
Faizin Ketua RT 3 RW 4 Desa Tumpangkrasak yang menunjukkan mobil milik vendor PLN yang disandera warga akibat kesal listrik diwilayahnya setahun byar-pet (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Hampir setahun sudah warga sejumlah RT di Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati Kudus dibuat kesal akibat aliran listrik PLN yang acapkali byar-pet. Oleh karenanya saat petugas PLN sedang berusaha memperbaiki listrik di wilayah tersebut warga yang sebagian besar ibu-ibu itu menyandera armada milik vendor PT PLN, karena mereka yakin listrik yang menyala itu tak akan berapa lama akan mati kembali.

Warga menuntut agar PLN serius memperbaiki listrik di wilayahnya secara permanen dan tidak lagi byar-pet. Akibatnya mobil tersebut disandera di halaman milik warga, dengan harapan para petugas itu membawa serta pimpinanannya dan warga akan menuntut agar PLN serius menangani problem listrik di wilayah tersebut.

Ketua RT 3 RW 4 Desa Tumpangkrasak, Faizin membenarkan bahwa tadi malam ada satu unit mobil pickup milik perusahaan vendor PT PLN yang disandera oleh warganya.

“Sebetulnya yang disandera hanya mobilnya, tapi karena kru mobil itu menganggap bahwa ia harus bertanggungjawab atas armada tersebut, sehingga pengemudinyapun ikut bermalam di tempat itu,” katanya, Jumat (03/05/2024).

Ia menceritakan, hampir setiap malam listrik di sebagian rumah di wilayahnya mati. Memang, pihak PLN responsif ketika mendapat aduan terkait listrik yang mati, namun datangnya selalu molor berjam-jam bahkan seringkali listrik baru dihidupkan setelah mati selama 4-5 jam.

“Yang membetulkan itu beberapa menit saja, cuma disundul dengan galah dan ‘mengklik’ bagian apa gitu lalu menyala kembali, tapi kenapa harus menunggu berjam-jam,” keluh ketua RT.

Menurutnya, yang banyak mengeluh itu para ibu rumah tangga, karena pada jam-jam tersebut adalah saatnya anak-anak belajar, atau ibu-ibu memasak serta rehat sambil menonton televisi.

“Bayangkan listrik mati biasanya saat maghrib hingga pukul 00.00, tentu saja mereka kesal, kondisi seperti ini sudah hampir berlangsung satu tahun,” katanya.

Aksi yang dilakukan warga desa pun dikatakan Faizin agar PLN bisa lebih perhatian dengan seringnya listrik mati di wilayahnya.

“Kami hanya minta listrik gak mati-matian lagi, karena kami tahu PLN tahu solusinya dan mereka adalah pelanggan yang harus ditanggapi keluhannya,” ucapnya.

Keluhan yang disampaikan warganya itu pun dibenarkan oleh Kepala Desa Tumpangkrasak, Sarjoko Saputro. Ditemui di Balai Desa Tumpangkrasak, ia mengatakan bahwa listrik memang sering mati setiap jam 8 malam ke atas.

Wilayah yang terdampak ada di sebagian rumah 3 RT, yakni di RT 3 RW 4, RT 3 RW 5, dan RT 4 RW 5.

Dia menceritakan, kejadian malam tadi memang didasari karena jengkelnya warga. Mereka mempertanyakan mengapa listrik bisa sering mati ketika malam hari.

“Datang tadi malam PLN, ternyata hanya di ‘klik’ (saklar/tombol listrik) saja, hanya 10 menit kenapa harus lama menunggu bahkan hingga berjam-jam,” cerita Sarjoko.

Usai listrik menyala kembali, petugas dan warga mencoba komunikasi untuk memperoleh titik temu. Tapi ternyata komunikasi itu tidak jelas, akhirnya warga jengkel.

“Karena warga jengkel, di situlah ada mobil dan petugas PLN ditahan, kenapa? Agar ada perhatian dari pihak PLN,” terang Sarjoko melanjutkan.

Setelah diselidiki lebih lanjut, diketahui bahwa alasan listrik sering padam karena trafo yang mengalirkan listrik kelebihan mutan atau overload. Petugas yang sebelumnya ditahan itu pun diperbolehkan pulang, namun satu unit kendaraan yang dibawa tetap ditahan.

“Biar mereka (PLN) bereaksi cepat untuk memperbaiki hal tersebut, ” ucapnya.

Sebelumnya warga sempat mengancam tadi malam, bila permasalahan itu tidak diselesaikan, menurut Sarjoko ada indikasi warga akan ke PLN untuk protes.

“Beruntung ada informasi bahwa PLN hari ini melakukan perbaikan dengan menambah trafo agar over kapasitas tidak lagi menyebabkan mati listrik saat malam hari.

Bahkan bila PLN tidak segera melakukan perbaikan trafo, warga sepakat untuk iuran untuk pengadaan trafo.

Di sisi lain, informasi yang diterima Sarjoko, banyak faktor yang mengindikasi trafo bisa kelebihan muatan. Untuk itu, Desa Tumpangkrasak sangat terbuka bila memang ada sweeping atau penyelidikan terkait penggunaan aliran listrik di wilayahnya.

“Kalau mau menyelidiki kami welcome, yang penting warga bisa tidur nyaman, dan listrik tidak mati-mati lagi,” terangnya.

Menurut Kades, dari informasi sejumlah sumber penyebab overloud listrik ini adalah karena adanya operasional tower dan sebuah kafe di kawasannya ‘Warung Kota’ saat mereka menggelar event.

Di sisi lain, pihak PLN UP3 Kudus sampai saat ini belum memberikan keterangannya.

Dari pantauan media ini, sebelumnya warga tetangga desa ini yakni di salah satu dukuh di Desa Ngembal Kulon yang berbatasan dengan Tumpangkrasak juga pernah terjadi hal yang sam. Saat itu warga juga dibuat kesal akibat byar-petnya listrik dikawasan tersebut sehingga warga terpaksa menyandera mobil PLN.

Usai aksi penyanderaan armada akhirnya pihak PLN bersedia melakukan mediasi antara PLN, warga dan kepala desa saat itu. Hasilnya boleh dikatakan efektif, jaringan listrik yang menjadi penyebab byar-petnya listrik diperbaiki oleh pihak PLN.

Hingga kini tak terdengar lagi keluhan warga desa itu terkait byar-petnya listrik di dukuh tersebut. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.