62 Pelaku Usaha Meriahkan Kampung Ramadan Taman Menara Kudus

oleh -225 Dilihat
Foto: Suasana Kampung Ramadan di Taman Menara Kudus. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Sejak awal Ramadan, Taman Menara Kudus disulap menjadi spot ngabuburit unik bagi masyarakat Kota Kretek. Kawasan yang sehari-hari digunakan sebagai tempat mangkal ojek Menara Kudus kini tertata rapi dengan stan-stan yang menawarkan aneka ragam kuliner lokal Kabupaten Kudus.

Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Car Free Day (CFD) Kudus memanfaatkan momentum Ramadan untuk berdagang dengan konsep baru. Mereka mengisi lapak-lapak yang telah disiapkan di lingkungan Taman Menara untuk menjajakan berbagai produk, mulai dari olahan makanan, camilan, aneka minuman, hingga produk fesyen.

Ketua Penyelenggara Kegiatan, Yanuar Hilmy, menjelaskan bahwa Kampung Ramadan yang digagas oleh Paguyuban PKL CFD ini mengusung tema “Ngabuburit Santri”. Tema tersebut dipilih karena lokasi Kampung Ramadan berada di kawasan Menara Kudus dan lingkungan pondok pesantren.

“Kami ingin menarik minat kaum muda dan para santri untuk datang meramaikan Kampung Ramadan ini,” ujar Yanuar.

Menurutnya, pihak penyelenggara menggandeng sebanyak 62 pelaku usaha dari berbagai kalangan. Mayoritas di antaranya merupakan PKL CFD yang biasa berdagang di kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus setiap Minggu pagi, ditambah beberapa pelaku UMKM lainnya serta pelaku usaha binaan Dinas Pariwisata dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Kampung Ramadan Taman Menara Kudus berlangsung sejak 1 Ramadan hingga 25 Ramadan. Para pedagang mulai membuka lapak dagangannya setiap hari dari pukul 15.00 hingga 22.00 WIB.

Edi Susanto, anggota Karang Taruna Kecamatan Kota, Kudus, menyambut baik hadirnya Kampung Ramadan ini. Menurutnya, selain membangkitkan geliat ekonomi warga, pengunjung juga dapat menikmati hiburan yang disediakan dalam kegiatan ini. “Kami dari Karang Taruna juga turut serta mengisi dan tampil dalam acara tersebut,” katanya.

Sementara itu, salah satu pedagang, Febbyla Cahya S (19), mengaku bersyukur dapat mengisi waktu Ramadan dengan berdagang. Ia menjual berbagai jenis donat dan jeruk peras selama kegiatan berlangsung.

Di usianya yang masih muda, Febbyla awalnya merasa minder dan malu berjualan di tempat ramai. Namun, seiring waktu, rasa itu berubah menjadi semangat untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

“Alhamdulillah, sekarang sudah mulai ramai. Awal-awal memang agak sepi, tapi lama-lama banyak pengunjung. Semoga Kampung Ramadan ini bisa hadir setiap tahun dan menjadi bagian dari kalender event dagang di Kabupaten Kudus,” harapnya. (AS/YM)