Menu MBG Dinilai Tak Tepat, Orang Tua Pertanyakan Pemberian Salak untuk Balita

oleh -777 Dilihat
Salah satu menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Kekhawatiran orang tua balita di wilayah Kecamatan Jati mencuat setelah menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada 21 November 2025 menyertakan buah salak sebagai salah satu isian.

Menu tersebut dinilai kurang tepat untuk balita, terutama karena tidak mengandung sumber protein hewani.

Seorang orang tua penerima manfaat mengungkapkan bahwa paket MBG jenis kering yang diterimanya berisi dua bungkus roti, dua buah jeruk, empat buah anggur, dan satu buah salak.

Ia mempertanyakan kelayakan menu tersebut untuk anak di bawah lima tahun, khususnya salak yang dinilai tidak ramah untuk pencernaan balita.

Menu itu juga tidak disertai susu atau sumber protein hewani lainnya.

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Kudus, Febria Setyaningrum, mengaku telah menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan koordinasi internal.

“Akan saya share ke Kepala SPPG agar jadi evaluasi,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto, turut menyayangkan adanya menu MBG yang dinilai kurang layak.

Menurutnya, pemenuhan gizi balita seharusnya berfokus pada protein hewani yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak.

“Protein hewani bisa didapat dari susu, tapi jangan susu kedelai karena proteinnya nabati. Bisa ikan laut maupun ikan darat, karena bagus untuk perkembangan otak anak,” jelasnya, Rabu (26/11/2025).

Terkait pemberian buah salak, Nuryanto menilai buah tersebut tidak dianjurkan untuk balita karena teksturnya sulit dicerna dan berpotensi menimbulkan sembelit.

“Buah salak kurang layak konsumsi untuk balita, bisa terjadi sembelit. Metabolisnya anak belum kuat untuk mencerna,” ujarnya.

Sebagai alternatif, ia menyarankan buah yang lebih ramah dikonsumsi balita, seperti melon, pepaya, dan apel.

Nuryanto menegaskan bahwa penyusunan menu MBG sepenuhnya menjadi kewenangan masing-masing SPPG melalui ahli gizi.

DKK Kudus, lanjutnya, hanya berperan dalam pendampingan keamanan pangan dan pelatihan higiene sanitasi.

“Menu itu disusun oleh ahli gizi SPPG, kami hanya mendampingi aspek higienenya,” tutupnya. (YM/YM)