KUDUS, ISKNEWS.COM – Peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus diisi dengan kegiatan ziarah ke sejumlah makam tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah daerah. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Wakil Bupati Bellinda Birton dan jajaran Forkopimda menyambangi Pesarean Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Rabu (23/9/2026).
Berbeda dari pelaksanaan ziarah pada tahun-tahun sebelumnya, rute kali ini tidak hanya menyasar makam para bupati terdahulu. Rombongan juga mendatangi makam tokoh pejuang yang dinilai memiliki jasa dan kontribusi besar bagi masyarakat Kudus.
Di kompleks Pesarean Sedo Mukti terdapat sejumlah makam bupati yang pernah memimpin Kudus. Berdasarkan keterangan juru kunci setempat, terdapat tujuh makam bupati terdahulu yang berada di kawasan tersebut.
Makam tersebut antara lain Kanjeng Adipati Ario Condronegoro III, Condronegoro IV, Kanjeng Cokronegoro, istri Kanjeng Condronegoro V, Condronegoro VI, Soedarsono, serta Agus Thoyib.
Selain berziarah ke makam para pemimpin daerah masa lampau, rombongan Bupati Sam’ani juga menyempatkan diri mendoakan dua tokoh pejuang yang dimakamkan di kompleks tersebut. Keduanya yakni Raden Mas Panji Sosrokartono dan dr. Ramelan.
Juru kunci Pesarean Sedo Mukti, Temu Sunarto, mengatakan penambahan makam dr. Ramelan dalam rute ziarah berkaitan dengan kiprah tokoh tersebut dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pada masa lalu.
Menurut Temu, dr. Ramelan dikenal sebagai seorang dokter yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat, khususnya warga yang mengalami keterbatasan ekonomi.
“Dokter Ramelan itu zaman dahulu merupakan dokter yang berjasa dan mempunyai kepedulian sosial yang sangat tinggi,” ungkap Temu saat menceritakan sosok tersebut.
Dr. Ramelan lahir di Kabupaten Demak pada 27 Januari 1901. Ia kemudian menempuh pendidikan kedokteran di Geneeskundige Hoge School atau Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.
Setelah menyelesaikan pendidikan, dr. Ramelan menjalankan tugas sebagai dokter pemerintah dan pernah ditempatkan di wilayah Kabupaten Kudus. Selama menjalankan pengabdian, ia dikenal dekat dengan masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
Temu menuturkan, dr. Ramelan tidak menetapkan biaya pengobatan yang memberatkan pasien. Bahkan, warga yang tidak mampu disebut kerap mendapatkan pelayanan tanpa harus membayar.
“Kalau yang berobat tidak mempunyai apa-apa, ya tidak apa-apa. Biasanya ketika petani panen, mereka memberikan hasil bumi,” jelasnya.
Pengabdian dr. Ramelan tidak hanya dikenang dalam lingkup masyarakat Kudus. Kiprahnya kemudian berlanjut dalam perjalanan pengabdian di tingkat nasional hingga lingkungan kemiliteran.
Namanya bahkan kemudian digunakan sebagai nama salah satu rumah sakit di Surabaya. Hal tersebut menjadi bagian dari penghormatan atas perjalanan pengabdiannya, termasuk ketika dirinya pernah mencapai pangkat Kolonel di jajaran Angkatan Laut Republik Indonesia.
Melalui kegiatan ziarah tersebut, peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus tidak hanya menjadi momentum mengenang para pemimpin terdahulu, tetapi juga mengingat kembali jasa tokoh-tokoh yang telah memberikan pengabdian bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar nilai perjuangan, kepedulian, dan pengabdian para tokoh masa lalu dapat terus dikenang dan menjadi bagian dari semangat pembangunan Kudus pada masa kini. (AS/YM)




