Blora, isknews.com (Lintas Blora) – Tingginya angka kematian Ibu dan anak menjadi sorotan Bupati Blora Jawa Tengah. Sehingga menempatkan posisi Kabupaten Blora pada peringkat ke-8 terbanyak dalam kasus kematian Ibu dan anak.

Hal itu diketahui, saat Arief Rohman, Wakil Bupati Blora, membacakan sambutannya dalam rapat Koordinasi Kesehatan Daerah (Rakorkesda) tahun 2017 yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora, Selasa (11/4/2017). Bertempat di Ruang Batavia Same Hotel Kecamatan Cepu, rakor bertema “Dengan Melaksanakan Gerakan Masyarakat Sehat Melalui Pendekatan Keluarga Kita Wujudkan Kebupaten Blora Sehat”.
Dalam sambutannya, Arif Rohman, menyatakan, bahwa Bupati Djoko Nugroho, menyoroti tentang masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Blora. “Selama tahun 2016 kemarin ada 22 kasus di Blora, dan menempati peringkat 8 terbanyak se Jawa Tengah,” katanya.
Pihaknya meminta seluruh stakeholder bisa bersama-sama mengatasi hal ini, misalnya dengan program intip kehamilan. “Dimana Puskesmas, Pusyandu, dan Ibu-ibu PKK di pedesaan harus punya data siapa saja warganya yang hamil, sehingga bisa dilakukan pendampingan agar kesehatan dan pemenuhan gizinya terjaga. Ibunya sehat, saat melahirkan sehat, dan bayinya kuat,” lanjutnya. Di tahun 2017 mulai Januari hingga akhir Maret kemarin, lanjut dia, sudah ada 7 kasus kematian ibu dan anak yang menempatkan Blora di peringkat ketiga terbanyak se Jawa Tengah. (as)








