Asal Usul Replika Menara Kudus di Masjid Jami’ Manarul Huda

oleh -741 Dilihat
Menara Kudus
Foto: Replika Menara Masjid Manarul Huda, Dukuh Baran Kiringan, Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jumat (02-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sebuah bangunan replika Menara Kudus berdiri kokoh di depan Masjid Jami’ Manarul Huda, Dukuh Baran Kiringan, Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Masjid pertama dan tertua di Desa Samirejo ini, merupakan peninggalan dari Kyai Abdullah Asyiq bin Abdussyakur atau yang dikenal sebagai Kyai Udan Panas.

Kyai Udan Panas merupakan ulama pertama yang masuk ke Desa Samirejo. Di desa tersebut, ia melakukan Babat Alas (membuka desa -red), tanpa mengenal teriknya panas dan deras hujan yang mengguyur, serta tidak pernah berhenti siang maupun malam.

Semua itu dilakukan hanya untuk melakukan syiar agama Islam pada masyarakat Desa Samirejo dan sekitarnya. Dari sosoknya yang pantang menyerah tersebut, masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kyai Udan Panas.

Foto: Pengurus Masjid Manarul Huda (dari kiri) H. Noor Habib (43) dan H. Guntur Riyadi (52), Jumat (02-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Masjid peninggalan Kyai Udan Panas, dahulunya bernama Masjid Baitul Muttaqin, karena perkembangan zaman kemudian nama tersebut diganti menjadi Masjid Jami’ Manarul Huda, yang merupakan pemberian dari Kyai Arwani Amin.

Dari nama Manarul Huda, kemudian menginspirasi Kyai Ahmad Musa Maulani selaku Nadzir Masjid tersebut, unuk membuat sebuah menara. Dari beberapa menara yang ada, terpilihlah Menara Kudus yang merupakan simbol syiar  agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus hingga ke Dukuh Baran Kiringan. Hal ini dilakukan sebagai upaya tabaruk masyarakat setempat kepada Sunan Kudus.

Replika Menara yang berada di depan Masjid Jami’ Manarul Huda dibangun selama delapan bulan, dari Agustus 2006 hingga Maret 2007.

“Persiapan pembangunan menara tersebut dilakukan secara matang, dari minta izin kepada Sunan Kudus dan pengurus Masjid Menara Kudus untuk mendirikan replika menara. Dilanjutkan perekaman setiap item dari Menara Kudus yang dilakukan secara detail oleh arsitektur profesional,” ungkap H. Noor Habib (43), Jumat (02-02-2018).

Pengurus Masjid Jami’ Manarul Huda itu melanjutkan, “Proses pembangunannya tetap menggunakan semen sebagai perekatnya, namun jumlahnya kami batasi agar hasilnya bisa menyerupai menara aslinya.”

Meskipun demikian, menara tersebut hanya memiliki kemiripan hingga 75 persen dari bangunan aslinya. Replika Menara Masjid Jami’ Manarul Huda memiliki luas sebesar 25 meter persegi, dengan perbandingan 3 : 1 dari Menara Kudus.

“Untuk membuat menara yang sama persis dengan Menara Kudus, itu tidak mungkin. Karena Menara Kudus yang membuat adalah seorang Waliyullah, sedangkan menara ini dibuat oleh tukang biasa. Dan inilah hasil maksimal yang telah kami lakukan,” pungkas H. Guntur Riyadi (52).

Keberadaan replika menara tersebut merupakan simbol, betapa besar peranan Sunan Kudus dalam mensyiarkan agama Islam di Kota Kretek. Hingga menjadikan Menara Kudus sebagai ikon yang tidak akan pernah bisa terlepaskan dari kota ini. (NNC/AM)

No More Posts Available.

No more pages to load.