Bisnis Brownis Sejak Kuliah, Laili Tidak Tertarik Lagi Kerja Kantoran

oleh -3,986 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Menjadi sukses tidak melulu tentang memiliki ruangan ber-AC ataupun duduk di kursi dengan meja penuh tumpukan buku dan laporan. Tetapi tentang bagaimana bisa menekuni kesukaan dan usaha kecil yang bisa menghidupi keseharian.

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu pebisnis kuliner cake and bakery di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Namanya, Chozinatul Laili (26 tahun).

Lulus sebagai salah satu Sarjana Ekonomi jurusan Management di Universitas Muria Kudus, Laili tidak tertarik lagi untuk menawarkan ijazahnya di perusahaan untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu. Kini, dia telah memiliki usaha sendiri meskipun masih terbilang kecil.

“Dulu pengen di dunia pendidikan, mau nerusin S2 tapi belum rejeki, jadi sekarang menekuni bisnis brownis ini meskipun masih home made,” katanya.

Dari bisnis brownis yang dirintis sejak 2017 silam, Laili bisa membeli peralatan pembuatan secara mandiri dari hasil penjualan online-nya. Bahkan, dalam waktu dekat ini, dia berencana untuk membuka toko cake and bakery sendiri di dekat rumahnya.

“Alhamdulillah, dari awal memang murni mandiri, tidak ada bantuan sama sekali, jadi benar-benar merasakan hasil sendiri,” ujarnya.

Laili juga menceritakan, awal mula menggeluti bisnis brownis ini lantaran sempat ikut pelatihan yang diadakan oleh Dinas Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperinkop dan UKM) Kudus pada 2017 silam.

Sembari menyelesaikan tugas akhir perkuliahan (skripsi), Laili iseng mengaplikasikan ilmu dari pelatihan yang didapatkan waktu itu. Ternyata, hasil coba-coba yang dilakukannya memberikan hasil yang bagus.

“Dulu pas awal itu 3 pesenan setiap minggu, sekarang setiap hari pasti ada pesanan,” imbuhnya.

Melihat pasar yang menjanjikan, Laili pun kemudian melebarkan sayap dengan membuka pesanan untuk kue tart. Tidak main-main, untuk pengembangan resep cake and bakery buatannya, Laili sampai mengikuti beberapa pelatihan hingga luar kota.

“Kalau ikut pelatihan langsung kan kita tau cara dan resep dari chef langsung, beda kalau cuma lihat youtube kadang itu belajarnya kurang maksimal,” tuturnya.

Hingga saat ini, dia pun menerima segala macam brownis dan tart sesuai dengan pesanan pelanggan. Dengan mengutamakan kualitas dan rasa yang mantap, harga yang dipatok oleh Laili pun lebih murah dari yang dijual di pasaran.

“Kalau harga mulai 20 ribu sampai 40 ribu untuk brownis, kalau tart mulai 70 ribu hingga 250 ribu rupiah,” paparnya.

Ada beberapa varian toping brownis yang disediakan oleh Laili, seperti, meses, keju, cocho chip, kacang almond, kacang, oreo, dan lainnya sesuai keinginan pelanggan. Sementara untuk jenis tart, dia mengaku bisa melayani segala macam bentuk dan toping sesuai dengan request.

Selain menjual secara perseorangan, Laili juga membuka pesanan untuk hantaran atau hajat lain yang berjumlah banyak. Bahkan, dia sudah memiliki langganan dan tiap bulan pasti menerima pesanan dalam jumlah banyak.

“Kalau keuntungan dari bisnis ini tidak menentu, perbulan minimal itu dapet 5 juta,” ungkapnya. (MY/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.