BPBD Kudus Bentuk SPAB di SMP 2 dan 3 Bae, Tanamkan Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini

oleh -156 Dilihat
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus, Mundir, saat menyampaikan sambutan pada pembukaan kegiatan Pembentukan dan Pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP 2 Bae, Selasa (5/8/2025). (Foto: BPBD Kudus)

Kudus, isknews.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus membentuk dan melatih Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) untuk SMP 2 dan 3 Bae pada 5–6 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas sekolah dalam menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu, sekaligus menumbuhkan budaya siaga bencana sejak dini.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus, Mundir, menyampaikan bahwa pembentukan SPAB bertujuan untuk membangun sistem ketangguhan bencana di lingkungan pendidikan. Melalui pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS), siswa, guru, dan seluruh warga sekolah diharapkan mampu mengenali risiko, memahami langkah mitigasi, serta mengetahui prosedur evakuasi dan pertolongan pertama saat bencana terjadi.

“Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tanggap terhadap potensi bencana. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga harus menjadi tempat yang siap menghadapi risiko kebencanaan,” jelas Mundir saat ditemui usai kegiatan.

Hari pertama pelatihan mengusung tema “Pengenalan SPAB dan Pembentukan TSBS”, yang dimulai dengan pembukaan oleh Kepala Sekolah dan BPBD, dilanjutkan dengan pemaparan kebijakan SPAB oleh Disdikpora Kudus. BPBD kemudian menjelaskan peran pentingnya dalam peningkatan kesiapsiagaan di sekolah.

Para peserta, yang terdiri dari perwakilan guru dan siswa, kemudian dibimbing oleh fasilitator untuk membentuk TSBS dan menyusun dokumen penting seperti rencana aksi, rencana kedaruratan, serta Kajian Risiko Bencana (KRB) sekolah. Kegiatan hari pertama ditutup dengan refleksi dan penugasan mandiri untuk menyempurnakan draft dokumen.

Hari kedua berfokus pada praktik lapangan dengan tema “Simulasi dan Praktik SPAB”. Kegiatan diawali dengan persiapan teknis, kemudian dilanjutkan simulasi penanggulangan bencana yang mencakup proses evakuasi dan pertolongan pertama. Setelah itu, peserta mengevaluasi hasil simulasi dan merevisi dokumen rencana kedaruratan yang telah disusun sebelumnya.

Dalam sesi penutupan, BPBD menyampaikan pentingnya tindak lanjut dari kegiatan ini. Integrasi SPAB dalam program sekolah dinilai menjadi kunci keberlanjutan kesiapsiagaan bencana.

“Harapannya, setelah pelatihan ini, seluruh sekolah bisa melanjutkan program SPAB secara mandiri. Kami ingin SPAB bukan hanya seremonial, tetapi menjadi budaya sadar risiko yang melekat dalam kehidupan sekolah,” tegas Mundir. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :