Bulusan Kudus Tampil Berbeda, Utamakan Kebersamaan Ketimbang Komersialisasi

oleh -460 Dilihat
Tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com — Tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tahun ini tampil dengan wajah berbeda. Tanpa pungutan tiket masuk, perayaan yang digelar pada Sabtu (28/3/2026) itu justru dipadati ribuan warga yang datang untuk ngalap berkah sekaligus merasakan kuatnya nilai kebersamaan.

Kebijakan peniadaan tiket menjadi penanda perubahan arah penyelenggaraan tradisi tahunan tersebut. Panitia ingin mengembalikan Bulusan sebagai ruang budaya dan spiritual yang inklusif bagi seluruh masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial bernuansa komersial.

Ketua Panitia Tradisi Bulusan, Nor Kholis, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memperkuat partisipasi warga tanpa sekat.

Peniadaan tiket ini karena kami ingin memperkuat lagi kebersamaan dan keterlibatan masyarakat. Tidak memikirkan kegiatan ini sebagai sebuah bisnis, tapi kami ingin ngalap berkah bersama-sama,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi. Ribuan warga memadati lokasi kirab untuk menyaksikan arak-arakan gunungan yang menjadi daya tarik utama. Sebanyak sepuluh gunungan diarak, terdiri dari sembilan gunungan perwakilan RT dan satu gunungan khusus berisi ketupat.

Gunungan yang berisi hasil bumi tersebut kemudian dibawa menuju Makam Mbah Kiai Dudo. Setibanya di lokasi, dilakukan prosesi penyerahan kupat kepada juru kunci sebagai bagian dari ritual adat yang telah berlangsung turun-temurun.

Kupat tersebut selanjutnya dipersembahkan sebagai pakan bulus yang dipercaya masyarakat sebagai jelmaan murid Sunan Muria. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud pelestarian kearifan lokal.

Usai prosesi inti, warga mengikuti doa bersama. Namun, sebelum doa benar-benar usai, sebagian masyarakat mulai berebut isi gunungan. Mereka meyakini hasil bumi tersebut membawa keberkahan bagi kehidupan sehari-hari.

Rangkaian Tradisi Bulusan 2026 telah dimulai sejak Jumat (27/3/2026) dengan kenduren massal. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kirab gunungan, pentas seni, hingga pertunjukan wayang yang menambah semarak suasana perayaan.

Nor Kholis berharap nilai kebersamaan yang diusung tahun ini dapat terus terjaga dan menjadi penguat identitas budaya masyarakat Kudus.

Harapannya, tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi pengingat bagi generasi mendatang akan pentingnya kebersamaan dan nilai spiritual,” tuturnya.

Secara historis, Tradisi Bulusan berakar dari kisah Mbah Dudo pada masa penyebaran Islam oleh Sunan Muria. Dikisahkan, dua muridnya, Umara dan Umari, berubah menjadi bulus akibat sabda sang wali saat menjalankan aktivitas di malam hari.

Peristiwa tersebut juga melahirkan Sendang Bulusan, sumber mata air yang hingga kini menjadi bagian penting dari tradisi. Seiring waktu, masyarakat memperingati khaul Mbah Dudo setiap 8 Syawal dengan kirab dan berbagai ritual adat, yang kemudian dikenal luas sebagai Tradisi Bulusan. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.