Calhaj Cadangan Kudus Boleh Tes Kesehatan Setelah Lebaran, tapi Ada Risiko

oleh -131 Dilihat
oleh
Ilustrasi seorang lansia sedang melakukan cek kesehatan.(Foto: Istimewa)

Kudus, isknews.com – Polemik istitaah atau tes kesehatan bagi calon jemaah haji (calhaj) cadangan di Kudus mencuat, terutama terkait kewajiban membatalkan puasa saat pemeriksaan.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus pun memberikan opsi bagi calhaj cadangan untuk melakukan tes kesehatan setelah Lebaran, meski ada risiko yang harus ditanggung.

Jadwal pemeriksaan kesehatan bagi calhaj cadangan di Kudus telah ditetapkan sejak 6 Maret 2025.

Proses ini meliputi pemeriksaan darah dan urin di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), pemeriksaan EKG dan rontgen di rumah sakit, serta pemeriksaan kesehatan di puskesmas.

Kepala DKK Kudus, dr. Andini Aridewi, menegaskan bahwa sejak awal pihaknya tidak mewajibkan calhaj cadangan untuk mengikuti tes kesehatan di bulan Ramadan.

Namun, mereka diimbau untuk segera menjalani pemeriksaan guna mengantisipasi kemungkinan adanya penyakit yang perlu dievaluasi lebih lanjut.

“Karena sudah ada jadwal pelunasan tahap kedua mulai 26 Maret hingga 17 April, maka pemeriksaan kesehatan ini harus dilakukan sesuai dengan Surat Edaran (SE) Kementerian Agama sebagai syarat pelunasan biaya haji,” jelasnya, Selasa, 11 Maret 2025.

DKK Kudus juga memfasilitasi pelaksanaan pemeriksaan kesehatan selama Ramadan agar ada waktu cukup bagi jemaah yang mungkin membutuhkan perawatan atau pemantauan lebih lanjut sebelum keberangkatan.

“Jika ditemukan penyakit serius, masih ada waktu untuk evaluasi atau pengawasan. Berbeda jika tes dilakukan setelah Lebaran, waktunya lebih sempit, dan itu menjadi risiko bagi jemaah sendiri,” tegasnya.

Salah satu polemik yang mencuat adalah kewajiban calhaj untuk membatalkan puasa saat menjalani pemeriksaan di Labkesda. Menurut dr. Andini, hal ini sudah dikonsultasikan dengan ahli patologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memastikan keakuratan hasil pemeriksaan.

Dalam prosedurnya, jemaah harus berpuasa mulai pukul 21.00 WIB selama 10 jam, hanya diperbolehkan minum air putih.

Setelah pengambilan sampel pertama, jemaah wajib sarapan seperti biasa, lalu kembali berpuasa selama dua jam sebelum pengambilan sampel kedua.

“Tes gula darah yang paling akurat dilakukan dengan puasa 10 jam. Setelah sampel pertama diambil, jemaah harus makan, lalu setelah dua jam diambil sampel kedua untuk mengetahui kondisi pankreas,” terangnya.

Hasil pemeriksaan di Labkesda dapat diketahui dalam waktu tiga hari. Sambil menunggu hasil, jemaah akan menjalani pemeriksaan EKG dan rontgen di rumah sakit, yang hasilnya juga baru keluar setelah tiga hari.

Setelah itu, pemeriksaan kesehatan di puskesmas dilakukan untuk mengevaluasi kondisi fisik, mental, dan kognitif jemaah. Proses ini diperkirakan selesai dalam satu hari.

“Jadi memang butuh waktu. Namun, jika calhaj memilih menunda pemeriksaan hingga setelah Lebaran, mereka harus siap dengan konsekuensinya jika hasilnya membutuhkan evaluasi lebih lanjut,” tandasnya.

Sebagai informasi, terdapat 366 calhaj cadangan di Kabupaten Kudus yang dijadwalkan berangkat tahun ini. Di wilayah Puskesmas Gribig saja, terdapat 31 calhaj cadangan, di mana 19 orang di antaranya telah menjalani tes kesehatan.

Keputusan untuk menjalani pemeriksaan sebelum atau setelah Lebaran kini berada di tangan jemaah. Namun, mereka diimbau untuk mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul jika hasil pemeriksaan membutuhkan tindakan medis lebih lanjut. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :