Filosofi Tradisi Munjung Wong Tuwo di Wates

oleh -540 Dilihat

Kudus, ISKNEWS.COM – Tradisi Munjung Wong Tuwo menjadi sebuah adat yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus setiap tahunnya. Tradisi ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Ki Lengku dan Nyai Seliyah yang menjadi tokoh cikal bakal desa.

Sirin, Kepala Desa Wates mengatakan dari pernikahan Ki Lengku dan Nyai Seliah warga desanya bermula. Karena itu, sebagai wujud bakti kepada tokoh cikal bakal desanya digelarlah tradisi Munjung Wong Tuwo.

Bentuk Munjung Wong Tuwo dalam tradisi ini secara simbolis diwujudkan dengan penyerahan tenong dan senik dari anak-anak kepada Ketua RT dan RW. Setelah itu, dari seluruh Ketua RT dan RW memberikan tenong dan senik  tersebut kepada sesepuh desa setempat.

Kepala Desa juga berkesempatan memberikan tenong dan senik kepada sesepuh desa yang merupakan eks-kepala desa Wates. Dari esk-kepala desa Wates mengembalikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk gunungan yang diarak keliling kampung dan berakhir di Mushola Darul Muttaqin untuk didoakan dan dilakukan ‘Dahar Kembul’ atau ngepung gunungan oleh masyarakat.

Tradisi yang dikemas dalam rangkaian kegiatan selama satu minggu ini jika ditelisik memiliki pesan yang mendalam bagi masyarakat. Sirin menjelaskan pesan utama dari tradisi ini mengajarkan masyakat untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya.

“Jika orang tua masih hidup diwujudkan dalam bentuk prilaku dan sikap yang ‘nurut marang dawuhe wong tuwo’ (mengikuti perkataan orang tua -Red). Namun jika orang tuanya sudah meninggal, wujud baktinya dengan mendoakan,” terangnya.

Selain itu, melalui tradisi ini Sirin coba menghidupkan rasa cinta masyarakat akan kearifan tradisi, budaya dan dolanan tempo dulu. Tegasnya, budaya dan dolanan tempo dulu syarat akan makna kebersamaan, persatuan dan ajaran luhur.

“Budaya yang ada mari kita jaga dan lestarikan bersama, jangan biarkan keberadaanya ditengah-tengah masyarakat tergerus oleh zaman. Melalui acara seperti ini, budaya dan dolanan tempo dulu kami kenalkan. Dari kenal, maka akan tumbuh rasa mencintai hingga akhirnya muncul rasa memiliki dan melestarikan budaya tersebut,” jelasnya.

Sirin juga mengapresiasi tinggi atas konsistensi masyarakat dalam nguri-nguri budaya Munjung Wong Tuwo. Menurutnya, tradisi sedekah bumi ini selain berguna sebagai tolak balak. Lebih dari itu, sedekah bumi itu juga ditujukan untuk mengingatkan masyarakat untuk berbakti dan tidak boleh lupa dengan orang tua atau leluhurnya. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.