Galakkan Ibu Rumah Tangga Bercocok Tanam Cabai Dengan Polybag

oleh
Ibu rumah tangga sedang belajar bercocok tanam dengan media Polybag (Foto : istimewa)

Kudus, isknews.com – Harga cabe rawit yang seringkali berfluktuasi tinggi, menyusahkan bagi para penggila pedas.  Bahkan Enggartiasto Lukita Menteri Perdagangan RI menganjurkan kita untuk menanam sendiri pohon cabai.

Lalu bagaimana dengan orang kota yang tidak memiliki banyak lahan untuk menanam? Menanam cabe dalam polybag atau pot adalah solusi pasti dalam masalah ini.

Bagi yang sudah lama memiliki hobi berkebun, bercocok tanam merupakan sesuatu yang mudah dan menyenangkan.

Tetapi yang baru ingin memulai, bercocok tanam  merupakan sesuatu yang sulit. Padahal tidak demikian, siapapun bisa bercocok tanam asalkan mau dan punya keinginan.

Seiring dengan perkembangan dunia pertanian, bercocok tanam tidak lagi harus di sawah atau di tanah langsung.

Namun menggunakan polibag sebagai upaya untuk mempermudah perawatan dan meminimalkan hama penyakit.

Media tanam memiliki fungsi untuk menopang tanaman, memberikan nutrisi dan menyediakan tempat bagi akar tanaman untuk tumbuh dan berkembang.

TRENDING :  Kementrian Pertanian RI Hadiri Gebyar Upaya Khusus Sapi Bunting

Lewat media tanam tumbuh-tumbuhan mendapatkan sebagian besar nutrisinya.

Untuk budidaya tanaman dalam wadah pot atau polybag, media tanam dibuat sebagai pengganti tanah. Oleh karena itu, harus bisa menggantikan fungsi tanah bagi tanaman.

Gerakan tanam cabai dalam polibag sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan

Media tanam yang baik harus memiliki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus melalui Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan, mengajak kaum ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok wanita tani (KWT) untuk menanam cabai di polibag.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan warga di desa yang menanam langsung tanah baik di halaman maupun belakang rumahnya.

Arin Nikmah, Kasie Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan, mengatakan bahwa gerakan tanam cabai dalam polibag dalam upaya penanggulangan kemiskinan ini merupakan program dari Dinas Pertanian dan Perkebuhan Provinsi Jateng yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus.

TRENDING :  Tekan Harga Cabai Melonjak, Koramil Tanam 6000 Pohon Cabai Bantuan Balingtan

“ Ada bibit 3900 dari Distanbun Pemprov Jateng. Didistribusikan ke 3 Desa yang dinilai miskin di Kudus yaitu KWT Mawar Putih Desa Honggosoco, KWT Arumsari Desa Peganjaran dan Gapoktan Desa Kandangmas. Mereka juga kita ajarkan komposisi media tanamnya. Kan berbeda dengan tanam yang biasanya hanya ditebar di halaman rumah ,” ujar Arin Nikmah.

Dijelaskan, dengan diberikan berupa bibit maka para penerima hanya melakukan pembesaran. Sehingga para peserta hanya diajarkan bagaimana menanam bibit cabai ke polibag yang sudah disediakan kemudian dibawa pulang untuk diletakkan di halaman rumah masing-masing.

“ Nanti kalau sudah panen. Ibu-ibu tinggal memilih yang bagus untuk dideder lagi. Jadi tanaman cabainya makin banyak ,” imbuhnya.

Keuntungan menanam menggunakan polybag yakni :

– biaya lebih murah untuk pembelian polybag bertanam dibandingkan pot. Mudah dalam perawatan.

– Pengontrolan/pengawasan tiap tanaman lebih jelas. Misalnya pemeliharaan tanaman seperti serangan hama/penyakit dan kekurangan unsur hara.

TRENDING :  Harga Beras Mulai Merangkak Naik

-Tanaman cabai rawit dapat terhindar dari banjir atau tertular hama/penyakit.

-Polybag mampu ditambahkan bahan organic/pupuk kandang sesuai takaran.

-Menghemat ruang dan tempat penanaman.

-Komposisi media tanam mudah diatur.

-Nutrisi yang diberikan dapat langsung diserap akar tanaman.

– Dapat dibudidayakan kapan saja tanpa mengenal musim.

– Dapat digunakan sebagai tanaman obat dan tanaman hias di pekarangan/teras rumah.

Alumni IPB ini mengungkapkan bahwa setelah diberikan bibit, pihak dinas akan melakukan pendampingan sampai masa panen. Hal ini sebagai upaya untuk mengetahui bagaimana program ini berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

“ Kalau yang sebelum sebelumnya kan hanya diberikan saja terus lepas. Tidak tahu apakah bibit tadi tumbuh atau mati karena perawatan salah atau karena terkena penyakit. Nah, yang ini kita akan lakukan pendampingan ,” tambahnya. (YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.