Gunungan Sewu Kupat Muria Jadi Rebutan, Warga Padati Taman Ria Colo

oleh -381 Dilihat
Foto: Sejumlah Gunungan Kirab berjejer sebelum di rebnut warga. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Ribuan warga memadati kawasan Taman Ria Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, saat prosesi perebutan gunungan dalam tradisi Parade Sewu Kupat Muria, Sabtu, 28 Maret 2026. Gunungan berisi ketupat, lepet, serta hasil bumi itu langsung diserbu masyarakat begitu kirab selesai digelar.

Tradisi syawalan yang rutin dilaksanakan setiap tahun di Desa Colo ini kembali berlangsung meriah. Sebanyak 18 gunungan yang berasal dari desa-desa di Kecamatan Dawe diarak dari kawasan Makam Sunan Muria menuju Taman Ria Colo sebelum akhirnya diperebutkan warga.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari. Mereka rela datang lebih awal demi menyaksikan rangkaian kirab sekaligus mengikuti grebek kupat yang menjadi puncak acara.

Salah satu pengunjung, Rofa, mengaku sengaja hadir untuk merasakan langsung kemeriahan tradisi tersebut. Warga Desa Bae, Kecamatan Bae itu bahkan ikut dalam perebutan gunungan dan berhasil membawa pulang beberapa hasil bumi.

Setiap ada kupatan pasti saya ke sini, sekalian ikut gerebek ketupat. Tadi dapat ketupat, lepet, parijoto, sama jeruk pamelo,” ujarnya.

Menurutnya, hasil bumi yang diperoleh dari gunungan akan dibawa pulang untuk dikonsumsi bersama keluarga. Ia meyakini, makanan tersebut mengandung berkah dari Sunan Muria.

Tadi memang harus berebut dengan warga lain, tapi seru. Semoga membawa berkah,” tambahnya.

Kepala Panitia Parade Sewu Kupat 2026, Suwanto, menyampaikan bahwa pelaksanaan tahun ini terasa lebih semarak dibanding sebelumnya. Hal itu tidak lepas dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat di Kudus, khususnya wilayah Kecamatan Dawe.

Memang tahun ini tidak ada lomba gunungan seperti sebelumnya, tetapi dari sisi kemeriahan justru lebih terasa,” jelasnya.

Terkait rencana pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), Suwanto menyebut hal tersebut belum dapat diwujudkan. Pasalnya, rekor jumlah ketupat terbanyak sebelumnya sudah mencapai 67 ribu buah, sementara konsep acara di Colo mengusung sewu atau seribu kupat.

Sudah sempat komunikasi dengan MURI, tapi karena rekor terbanyak sudah 67 ribu ketupat, sementara kita hanya sewu kupat, jadi belum memungkinkan,” terangnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, turut mengapresiasi penyelenggaraan tradisi tersebut. Ia menilai Parade Sewu Kupat Muria tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendongkrak sektor pariwisata dan perekonomian warga.

Tradisi kupatan ini memang sudah menjadi adat masyarakat Kudus sepekan setelah Lebaran. Kegiatan ini bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya partisipasi masyarakat dalam perayaan syawalan di berbagai wilayah di Kudus. Selain di Colo, tradisi serupa juga digelar di sejumlah tempat lain seperti Bulusan di Desa Hadipolo, Sendang Jodo di Desa Purwosari, hingga Gebyar Kupatan di Desa Kesambi.

Antusias masyarakat luar biasa. Semoga ke depan tradisi ini semakin berkembang dan mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Kudus,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.