Kudus, isknews.com – Sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus menyemarakkan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, SD 3 Medini di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, menggelar kegiatan bertajuk Dolan Bareng Si Meku. Dalam kegiatan ini, seluruh siswa diajak bermain aneka permainan tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus mengurangi ketergantungan anak pada gadget.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala SD 3 Medini, Darmo Winoto menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari imbauan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus yang mengajak sekolah-sekolah memperingati HAN dengan kegiatan positif dan menyenangkan untuk anak-anak.
“Kami mengikuti anjuran Disdikpora untuk memperingati Hari Anak Nasional. Jadi di SD 3 Medini semua anak kami ajak bermain permainan tradisional supaya mereka senang dan gembira. Anjuran dari dinas memang harus serentak di Kabupaten Kudus supaya sekolah mengajak anak ceria, tidak boleh ada yang sedih atau menangis,” ungkapnya.
Adapun permainan yang dimainkan oleh siswa meliputi egrang, engklek, bakiak, dakon, gobak sodor, hula hoop, hingga lompat tali. Menurut Darmo, permainan-permainan tersebut tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan nilai budaya dan manfaat fisik.
“Sekarang ini kan banyak anak-anak yang terkontaminasi gadget, jadi harapan kami dengan kami kenalkan seperti ini, mereka bisa lebih tertarik dengan permainan tradisional. Karena manfaatnya juga banyak sekali, seperti membantu anak melakukan aktivitas fisik yang bisa membuat tubuhnya lebih sehat,” jelasnya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, dengan jumlah total sebanyak 184 anak. Para guru juga turut bermain bersama, agar anak-anak bisa melihat langsung cara memainkan permainan tradisional tersebut.
“Semua siswa diberi kesempatan untuk mencoba permainan tradisional. Saya dan guru-guru juga ikut bermain langsung supaya anak-anak tahu cara bermainnya seperti apa,” lanjut Darmo.
Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya dalam momen peringatan saja, namun bisa terus dilakukan di lingkungan rumah masing-masing. Darmo juga mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan permainan tradisional di desa-desa.
“Harapan kami di desa-desa, permainan ini bisa aktif lagi. Eman-eman kalau punah, karena permainan tradisional ini kan peninggalan Budaya Jawa. Anak-anak juga bisa semakin sehat karena bisa berkeringat dengan melakukan aktivitas fisik ini,” pungkasnya. (AS/YM)







