Ini Dia Asal Usul Bulusan dan Tradisi Kupatan di Sumber Hadipolo

oleh -9,268 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Prosesi Budaya Kupatan Bulusan, di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, berlangsung Ahad (02/07). Acara inti berupa ritual pemberian makan ketupat dan lepet untul bulus. Pemberian makan bulus yang dipercaya sebagai jelmaan “Mbah Dudo” itu, dilakukan oleh juru kunci Makam Mbah Dudo, Sudasih. Ketupat dan lepet diambil dari gunungan yang diperebutkan pengunjung, setelah sebelumnya diarak menyusuri jalan desa menuju komplek Makam Mbah Dudo.

Di sela keramaian yang sudah menjadi tradisi tahunan, digelar setiap H+7 lebaran itu, sejumlah pengunjung tampak masuk ke dalam ruang Makam Mbah Dudo. Mereka yang terdiri dari satu keluarga, suami, istri dan anak itu, berdoa dengan khusuk, tanpa memperdulikan hiruk pikuk ratusan pengunjung yang ada di luar makam.
Kedatangan pengunjung yang diperkirakan datang dari jauh dan dengan tujuan khusus berdoa, tentunya tidak lepas dari Mbah Dudo yang oleh sebagian masyarakat, dianggap keramat. Konon, asal-usul Bulusan, terkait erat dengan Sunan Muria, salah satu dari Wali Songo, ulama penyiar Agama Islam di Kabupaten Kudus dan sekitarnya.

Mbah Dudo mempunyai dua orang murid, Umara dan Umari. Dalam perjalanannya menyebarkan Agama Islam, Mbah Dudo, berniat mendirikan mushola di lereng pegunungan Muria. Di tempat itu, beliau bersama murid-muridnya, hidup dar bertani. Dua orang muridnya, Umara dan Umari, sangat rajin dan tekun mengerjakan sawahnya, hingga malam hari, padahal saat itu bulan puasa.

Dalam rangka akan memperingati Nuzulul Qur’an itulah, Sunan Muria datang ke tempat tinggal Mbah Dudo, untuk bersilaturrahim dan membaca Al Quran, bersama Mbah Dudo, murid-muridnya itu, serta sahabatnya.
Di tengah perjalanan, saat melewati persawahan, Sunan Muria mendengar suara “krubyuk-krubyuk”, “Sunan Muria berhenti sejenak dan berkata “Lho, malam Nuzulul Quran kok tidak baca Al Quran, malah di sawah berendam di air seperti bulus saja!”.

Ternyata suara itu dari Umara dan Umari sedang ndaut atau mengambil rumput yang tumbuh di sela tanaman padi di lahan sawah. Akibat sabda Sunan Muria itu, seketika itu, Umara dan Umari berubah menjadi bulus.
Mbah Dudo pun menemui Sunan Muria, diikuti Umara dan Umari, meminta maaf atas kekhilafan kedua muridnya itu dan memohon dikembalikan lagi menjadi manusia. Namun nasi sudah menjadi bubur, Umara dan Umari sudah menjadi bulus dan tidak mungkin dapat kembali lagi berubah menjadi manusia.

Sunan Muria kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah yang diinjaknya, keluarlah mata air atausumber dari tempat tongkat ditancapkan, sehingga diberilah nama tempat itu dengan nama Dukuh Sumber. Kejadian selanjutnya, tongkat berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon “tombo ati” (obat hati).

Sebelum meninggalkan tempat itu, Sunan Muriaberkata, “Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap seminggu setelah har raya bulan Syawal. Tepatnya pada saat Bodo Kupat, alias Kupatan.”
Benar atau tidaknya cerita di atas,Wallahu Alam. Namun seperti yang terlihat hingga sekarang, setiap “bhodo kupat” atau kupatan tiba, keramaian di Dukuh Sumber tetap berlangsung dan ramai dikunjungi warga masyarakat, baik untuk melihat keramaian kupatan atau ziarah di Makam Mbah Dudo.(DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.