Jumlah Desa Rawan Kekeringan Di Kudus Menurun

oleh
ISKNEWS.COM
Distribusi air bersih ke desa-desa rawan kekeringan di Kudus (Istimewa).

Kudus, ISKNEWS.COM – Tahun ini, jumlah desa rawan kekeringan di Kabupaten Kudus mengalami penurunan. Jika sebelumnya ada 24 desa yang ditetapkan sebagai daerah rawan kekeringan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus. Di tahun 2018, turun menjadi 20 desa.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan berdasarkan data BPBD Kudus sebelumnya ada 24 desa rawan kekeringan yang tersebar di Kudus kecuali Kecamatan Kota. Tahun ini menurun menjadi 20 desa yang tersebar di empat kecamatan yakni Kaliwungu, Undaan, Jekulo dan Mejobo.

Desa-desa tersebut adalah Blimbing Kidul, Setrokalangan, Kedungdowo, Papringan, Banget, dan Sidorekso (Kecamatan Kaliwungu), Desa Kutuk, Glagahwaru, Terangmas, Lambangan (Kecamatan Undaan), serta Desa Sidomulyo, Desa Pladen, Desa Sadang, Bulung Kulon, Bulung Cangkring (Jecamatan Jekulo).

TRENDING :  Tamzil Bertekad Bawa Persiku Promosi Liga 1

Sementara di Kecamatan Mejobo, meliputi Desa Temulus, Hadiwarno, Kesambi, Jojo dan Payaman

Diungkapkannya, untuk mengatasi musim kemarau tahun ini BPDB Kudus telah menyiapkan 600 tangki air bersih ukuran 5000 liter yang siap didistribusikan ke desa-desa yang mengalami kekeringan. Terhitung, jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 500 tangki.

Saat ini, sebagian tangki-tangki tersebut telah didistribusikan ke tiga desa di Kabupaten Kudus yang mulai membutuhkan pasokan air, menyusul debit air sumur warga mulai berkurang di musim kemarau seperti sekarang.

“Ketiga desa tersebut, yakni Kedungdowo dan Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, serta Desa Kutuk, Kecamatan Undaan,” ujarnya pada Jumat (07-09-2018). Untuk memudahkan pendistribusian air bersih, BPBD Kudus menyiapkan bak penampung air berukuran 2.000 liter yang ditempatkan di dua desa.

TRENDING :  Siswa Paket C di Kudus Ikuti Simulasi UNBK Serentak

Bergas Catursasi Penanggungan menuturkan di Kedungdowo telah ditempatkan enam unit bak penampungan dan di Setrokalangan ada tiga unit ditambah dengan dua unit milik pemerintah desa.

“Droping air bersih di dua desa dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat,” ujarnya.

Demikian halnya di Desa Kutuk, akan diterapkan hal yang sama dengan menempatkan bak penampungan air agar masyarakat bisa mengambilnya setiap saat dan saat droping air juga tidak perlu menunggu warga menyiapkan tempat untuk menampung air.

“Karena pihanya baru melakukan survei lokasi hari Rabu. Untuk mengetahui lokasi yang tepat sebagai temapat menempatkan bak penampung airnya, maka droping akan segera dilaksanakan,” katanya. Ia berharap masyarakat memanfaatkan air bersih tersebut sesuai kebutuhan, terutama untuk mememuhi kebutuhan air minum, bukannya untuk mandi dan mencuci.

TRENDING :  Sejarah Sedulur Sikep di Desa Karangrowo

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kata dia, September 2018 merupakan puncak terjadinya musim kemarau.

Untuk itu, dia mengingatkan, masyarakat agar menghemat air bersih sehingga menggunakannya sesuai kebutuhan dan tidak boros agar saat puncak kemarau air tetap tersedia.

Untuk antisipasi daerah rawan kekurangan air bersih, maka BPBD Kudus setiap tahunnya selalu menyediakan anggaran untuk penyediaan air bersih.

BPBD Kudus juga melibatkan perusahaan swasta untuk membantu pemasokan air bersih untuk kawasan tertentu sehingga masyarakat yang membutuhkan suplai air bersih bisa segera tertangani. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :