Kalah di Mahkamah Agung, Juru Sita PN Kudus Eksekusi Sebidang Rumah di Demaan

oleh

Kudus, isknews.com – Petugas dan juru sita Pengadilan Negeri Kudus siang tadi melakukan eksekusi terhadap sebidang rumah seluas 150 meter persegi yang terletak di Desa Demaan, Kecamatan Kota Kabupaten Kudus yang selama ini ditempati oleh keluarga Siti Rokhimah, Selasa (08/10/2019).

Keluarga Siti Rokhimah dipaksa meninggalkan rumah tersebut setelah dinyatakan kalah oleh Mahkamah Agung yang menyidangkan perkara kasus jual beli tanah yang menyeret nama orang nomor satu di Kabupaten Kudus, HM Hartopo.

Petugas eksekusi dari PN Kudus saat mengangkut barang-barang dari rumah yang ditempati keluarga Siti Rokhimah (Foto: YM)

Perkara ini sebenarnya telah terjadi sejak tahun 2006. Hanya saja eksekusi pengosongan rumah baru dijalan tahun ini. Setelah gugatan wanprestasi yang dilayangkan pihak Hartopo ditanggapi oleh Pengadilan Negeri Kudus.

Meski dibawah penjagaan ketat aparat, namun proses eksekusi tersebut berjalan lancar. Tanpa perlawanan, janda berusia 70 tahun dan keluarganya hanya bisa menatap saat petugas mengangkut semua perabot yang ada di rumahnya ke dalam truk untuk dipindahkan ke tempat lain.

Kuasa hukum Hartopo, Yusuf Istanto mengatakan, sengketa atas rumah tanah tersebut berawal ketika terjadi jual beli tanah dari Siti Rochimah kepada Hartopo di tahun 2006. Saat itu, kata Yusuf, Hartopo membeli tanah seluas 150 meter persegi beserta rumahnya dari Rochimah seharga Rp 300 juta. “Bukti akta jual belinya ada yakni di notaris Suryanto,”kata Yusuf.

TRENDING :  Polres Kudus Bongkar Pabrik Miras di Tenggeles

Karena Rochimah belum memiliki rumah, maka dia meminta kepada Hartopo untuk mengontrak rumah tersebut hingga 2009.  Namun, setelah itu ternyata rumah tersebut tidak kunjung diserahkan ke Hartopo.

Bahkan, pada kelanjutannya ternyata muncul masalah ketika Rochimah malah dituntut oleh saudara-saudaranya atas tuduhan pemalsuan tanda tangan. Pasalnya, tanah yang seharusnya masih harus dibagi waris tersebut, disertifikatkan oleh Rochimah dengan memalsukan tanda tangan saudara-saudaranya yang juga berhak.

“Jadi, Rochimah juga sempat diadili atas dugaan pemalsuan tanda tangan. Bahkan putusan pengadilan, dia juga dihukum dua tahun,”kata Yusuf.

Selang berjalannya waktu, kata Yusuf, ternyata Hartopo kesulitan menguasai tanah dan rumah tersebut. Hingga pada tahun 2018, Hartopo melakukan gugatan ke pengadilan, untuk pengosongan tanah dan rumah tersebut yang kemudian menang. Hingga kemudian eksekusi atas tanah dan rumah tersebut baru  bisa dilakukan.

TRENDING :  110 Warga Binaan Rutan Jepara Terima Remisi Lebaran

“Pihak pak Hartopo sebenarnya sudah sempat menawarkan bantuan untuk membelikan rumah baru di belakang tanah yang disengketakan. Jadi, kami rasa klien kami sudah beritikad baik untuk membantu bu Rochimah,”kata Yusuf.

“Padahal dulu waktu tanda tangan di akte jual beli notaris, dia berjanji akan mengkosongkan sendiri rumah itu,” sebutnya.

Di tahun tersebut, keluarga pemilik rumah justru melayangkan gugatan ke Rokhimah dan Hartopo dengan dugaan pemalsuan tanda tangan. Hingga mengakibatkan Rokhimah dipidanakan empat tahun lamanya.

“Intinya mereka tidak menerimakan, karena rumah ini statusnya harta bersama. Kenapa bisa beralih nama menjadi milik Rokhimah dan dijual ke klien kami,” terangnya.

“Dari hasil Peninjauan Kembali (PK) atas gugatan yang dilayangkan keluarga Rokhimah. Mahkamah Agung memberikan pertimbangan bahwa pemalsuan tanda tangan ini merupakan permasalahan antara Rokhimah dan keluarganya. Bukan urusan klien kami,” pungas dia.

Pengakuan berbeda diucapkan oleh Siti Rokhimah. Kepada awak media, dia mengaku awal perkara ini terjadi saat dirinya terlilit hutang dengan Koperasi Barokah sebesar Rp. 15 juta pada tahun belasan tahun silam.

TRENDING :  TERDAKWA KASUS PENGANIAYAAN SISWA SMP N 1 TAMBAKROMO DIVONIS BERSALAH

“Waktu itu, sertifikat rumah ini saya gadaikan untuk pinjaman tersebut. Lalu ada Krisyanti, yang menawarkan pelunasan hutang saya di Koperasi dengan syarat menadatangani nota perjanjian di notaris dan membayar bunga atas hutang saya sebesar 2,5 persen perbulannya,” katanya.

Namun tak berselang lama, keluarga Rokhimah justru dikagetkan dengan munculnya akta jual beli rumah dengan sertifikat yang telah dibalik nama atas nama Hartopo.

“Saya total hutang dengan Krisyanti sekitar Rp. 160 juta (sudah termasuk bunganya). Dalam perjanjian hutang saya tidak tahu jika rumah ini akan dijual ke orang lain. Karena dulu tanda tangan di notaris katanya hanya untuk formalitas saja,” ucapnya.

Menanggapi kejadian ini, keluarga Rokhimah yang diwakili Siti Khofifah mengaku pasrah. Dan berharap agar kejadian semacam ini tidak menimpa orang lain.

“Ini sudah cukup menjadi pembelajaran bagi kami. Semoga permasalahan ini tidak dialami oleh orang lain di luar sana,” pungkas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :