Kudus, isknews.com – Wabah penyakit difteri tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, karena itu penting untuk masyarakat mengetahui cara mencegah penyakit difteri. Kasus penyakit tersebut belum lama ini jadi perhatian besar kementrian kesehatan (Kemenkes) maupun ikatan dokter anak indonesia (IDAI).
Beberapa provinsi di Indonesia melaporkan kasus luar biasa (KLB) difteri yang berpotensi mengancam jiwa. Terlebih, Jawa Tengah sendiri masuk dalam daftar wilayah yang dinyatakan KLB Difteri.
Kabid Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2L) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dokter Hikari Widodo, belum lama ini mengatakan, Hingga saat ini belum ada laporan mengenai adanya kasus difteri di Kabupaten Kudus.
Dikatakannya, Wilayah kantung-kantung imunisasi DPT kurang dari 25 persen, kemungkinan bisa menyebabkan mewabahnya difteri yang dengan mudah berkembang biak.
Hikari menganjurkan, anak-anak khususnya dibawah usia satu tahun yang belum dapat imunisasi DPT agar segera melakukan imunisasi. “Meski di Kudus belum ditemukan namun tetap waspada,” ujarnya
Hikari mengatakan bahwa sebenarnya penyakit difteri bisa menjangkiti pada siapa saja karena kuman itu sifatnya hidup dan menyebar. Namun semua itu tergantung pada sistem imunitas setiap individu, utamanya anak kecil mulai balita hingga sekolah dasar. Untuk itulah peran serta orang tua diperlukan dalam mengantisipasi penyebaran virus difteri berupa pemberian imunisasi DPT pada putra-putrinya yang masih bayi hingga bersekolah dasar kelas 1 sampai 3.
Lebih lanjut, informasi yang menjadi penyebab difteri mewabah adalah rendahnya kesadaran imunisasi di Indonesia. Padahal, minimal imunisasi disuatu wilayah harus mencapai 25 persen. Namun di Kudus sendiri bisa dipastikan lebih dari 25 persen yang sudah imunisasi.
Dijelaskan Hikari, Penyakit difteri pada anak adalah penyakit menular yang terjadi karena adanya infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada tenggorokan dan hidung serta dapat menyerang kulit, jika tidak segera ditangani sangat berpotensi berujung kematian.
Gejala penyakit difteri pada anak umumnya ditandai dengan kondisi badan yang lemas serta demam tinggi, pada tenggorokan terbentuk lapisan berwarna abu-abu yang mudah berdarah, karena itu tenggorokan akan terasa sakit, suara serak hingga kesulitan bernafas. Pada beberapa kasus difteri menyebabkan luka pada kulit seperti borok yang bisa meninggalkan bekas setelah sembuh. “Cara mencegah supaya tidak terjangkit difteri, dengan cara cuci tangan terlebih dulu setiap mau makan atau lainnya, agar kekebalan tubuh tetap terjaga supaya menjaga asupan vitamin serta makanan sayuran,” pesannya (AJ)










