Kesulitan Bahan Baku, Warga Mayong Kini Tak Lagi Produksi Keramik

oleh -279 Dilihat

Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Wilayah Mayong dan Nalumsari sudah lama dikenal sebagai penghasil keramik yang memiliki kualitas baik. Akan tetapi, sulitnya mendapatkan bahan baku dan sejumlah kendala lainnya menyebabkan sejumlah pengrajin keramik kini tak lagi memproduksinya. Pengrajin keramik kini hanya memproduksi gerabah dan genteng.

Seperti yang disampaikan oleh Sugiyo (46), pengrajin gerbah asal Desa Mayonglor Kecamatan Mayong. Sugiyo sudah empat tahun ini tidak produksi keramik. Sebagai gantinya, dirinya membuat genteng keramik. Sugiyo mengaku dulu pernah memproduksi keramik, namun karena harga jual tak sebanding dengan modal, ia pun berhenti memproduksi. “Saat ini buat genteng keramik. Kalau keramik murni sudah beberapa tahun tidak produksi,” katanya, Senin (24/7/2017).

Genteng keramik, menurutnya, genteng yang dilapisi keramik di bagian atasnya. Jadi, lebih awet ketimbang genteng biasa. Dijelaskan, harga genteng keramik tersebut Rp 3.500 per biji. Sedangkan harga tanah Mayong Rp 250 ribu per dam.

“Saya beli genteng yang sudah jadi, terus proses pelapisannya di sini. Cara pembuatannya adalah gilingan kaca, tanah dan bahan kimia PbO. Pembakaran membutuhkan temperatur 950 derajat celcius, dalam waktu satu jam,” tutur warga Desa Mayong lor RT 6 RW 4.

Bahan dasar pembuatan keramik dan gerabah adalah tanah. Selama ini, tanah Mayong hanya dapat dibuat untuk kerajinan gerabah. Jika ingin menghasilkan keramik, maka harus dikombinasikan dengan tanah lain.

Sugiyanto (52), seorang pengrajin gerabah di Desa Mayong lor RT 2 RW 3, mengatakan, perbedaan gerabah dengan keramik hanya pada proses pembakaran. Jika gerabah, hanya membutuhkan temperatur sekitar 800-900 derajat celcius. Namun, untuk menghasilkan keramik dibutuhkan sedikitnya 1.000 derajat celcius.

“Tanah Mayong yang dijadikan bahan baku hanya mampu maksimal dibakar 900 derajat celcius. Jadi, hanya bisa memproduksi gerabah,” katanya.

Sugiyanto menambahkan, tanah Mayong, jika dilakukan pembakaran 1.000 derajat celcius tidak tahan dan hasilnya tidak maksimal. Bahkan meleleh, atau melengkung yang dapat merubah bentuk dan motifnya.

Bagi pengrajin keramik jika menggunakan tanah Mayong harus mengkombinasikan dengan bahan dasar lain. Diantaranya feldspar dari Gunung Ragas di Desa Clering Kecamatan Donorojo, atau bekerjasama dengan Balai Besar Keramik Bandung untuk medapatkan bahan baku.

“Untuk mendapatkan bahan dasar itu membutuhkan modal yang lebih. Dampaknya, pengrajin di sini juga harus hitung-hitungan harga jualnya. Kalau mahal bisa kalah saing, kalau murah tidak dapat untung,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat pengrajin di Desa Mayonglor memilih untuk memproduksi gerabah saja. Sugiyanto terkahir kali memproduksi keramik tahun 1996 silam. (ZA)

KOMENTAR SEDULUR ISK :