Keunikan Tradisi Perkawinan Sedulur Sikep Sedot Perhatian Peneliti

oleh
Tradisi Perkawinan Sedulur Sikep
Foto: Wargono, Broto Sedulur Sikep Desa Karangrowo, Kecamatan Undan Kabupaten Kudus, Selasa (17-07-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Komitmen kuat dari sedulur sikep untuk terus mempertahankan tradisi dan ajarannya yang tergolong unik ini, berhasil menyedot perhatian sejumlah peneliti untuk mengkajinya.
Salah satunya adalah Dian Ayu Lestarina, yakni Tradisi Perkawinan Sedulur Sikep.

Gadis cantik asal Desa Karangampel tersebut mengaku sangat tertarik untuk mengenal lebih jauh sedulur sikep yang ada di Desa Karangrowo. Pandangan hidup yang berbeda dari masyarakat umumnya, membuat Dian, sapaan akrabnya, menjadikan sedulur sikep sebagai objek penelitian skripsinya.

“Saya tertarik pada tata cara pernikahan sedulur sikep yang tetap dianggap sah oleh pemerintah, meskipun tidak melakukan pencatatan di Dukcapil. Tradisi pernikahannya juga unik dan menarik,” ujar Dian pada isknews.com, Selasa (17-07-2018).

Dijelaskannya, dalam adat pernikahan orang Jawa dikenal adanya prosesi nontoni, lamaran, srah-srahan paningset, pasang tarub, siraman, malam midodareni, kembar mayang, ijab kabul, pananggih temanten, resepsi, ngunduh mantu dan jenang sumsuman.

Akan tetapi, tradisi tersebut tidak berlaku pada sedulur sikep. Lanjutnya, tradisi pernikahan pada sedulur sikep meliputi nyumuk, ngendek, pasuwitan dan paseksen.

“Nyumuk merupakan proses menanyakan kepada orang tua calon mempelai wanita. Apakah anaknya sudah memiliki kekasih atau tidak? Jika tidak memiliki kekasih, maka akan berlangsung ke proses Ngendek,” jelas Brotoh Sedulur Sikep Karangrowo, Wargono.

Imbuhnya, “Pada proses Ngendek yakni mempertemukan kedua mempelai dan orang tuanya untuk mengutarakan keinginan mempersunting calon mempelai wanita. Setelah itu, barulah berlanjut ke proses Nyuwito.”

Pada proses Nyuwito, mempelai pria akan tinggal dan mengabdikan diri di rumah mempelai wanita selama beberapa bulan hingga tahunan. Wargono mengungkapkan, lamanya proses nyuwito ini tergantung dari mempelai wanita, jika sudah dirasa cukup maka akan berlanjut ke proses selanjutnya.

Jika kedua mempelai telah melakukan “laki-rabi” maka mempelai pria harus segera mengungkapkan hal tersebut kepada orang tuanya. Dengan begitu, mereka akan memasuki proses paseksen.

“Dalam proses paseksen, mempelai pria akan mengucapkan janji untuk menikah sekali untuk selamanya. Proses paseksen harus di hadiri oleh kedua orang tua mempelai wanita atau yang mewakilkannya,” tegasnya.

Setelah melalui proses ini, maka kedua mempelai dinyatakan sah sebagi sepasang suami istri. Wargono menambahkan proses paseksen ini tetap dinyatakan sah, meskipun yang menyaksikan hanya kedua orang tua mempelai wainta saja.

Dian juga menuturkan, orang samin atau sedulur sikep itu lugu. Apapun yang diucapkannya, itulah yang akan dilakukannya. Seperti pada proses paseksen ini. Sedulur sikep berjanji untuk menikah sekali seumur hidup dan hal itu juga dibuktikan dalam hidupnya.

“Saya salut, sedulur sikep memiliki istri satu dan menikah sekali seumur hidup. Sebenarnya banyak pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari sedulur sikep. Karena itu, saya begitu tertarik untuk mempelajarinya,” pungkas mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro tersebut. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :