Kunjungi SMK di Kudus, Mendag Siap Fasilitasi Business Matching dan Akses Ekspor Jasa

oleh -557 Dilihat
Menteri Perdagangan Budi Santoso berfoto bersama siswi dan jajaran SMK NU Banat Kudus saat kunjungan kerja di Kudus, Kamis (12/3/2026). Kunjungan ini untuk mendorong penguatan sekolah vokasi serta membuka peluang ekspor jasa dan industri kreatif ke pasar global. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong peningkatan ekspor jasa Indonesia melalui penguatan sektor pendidikan vokasi. Komitmen tersebut disampaikan saat kunjungannya ke tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Kudus, Kamis (12/3/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Mendag menyatakan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia siap memfasilitasi sekolah vokasi mengikuti kegiatan presentasi bisnis (pitching) hingga business matching dengan calon mitra dari luar negeri. Upaya ini dilakukan melalui dukungan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.

Menurutnya, langkah tersebut bertujuan membuka peluang pasar internasional bagi para siswa maupun lulusan sekolah vokasi sehingga kemampuan mereka dapat terserap oleh industri global.

“Kami akan membantu mencarikan pasarnya. Ke depan, Kemendag akan memfasilitasi presentasi daring antara sekolah vokasi dengan 46 perwakilan perdagangan RI di luar negeri untuk mempertemukan dengan calon pembeli melalui business matching,” ujar Mendag.

Dalam agenda tersebut, Mendag mengunjungi SMK Raden Umar Said yang memiliki spesialisasi di bidang animasi, SMK NU Banat Kudus dengan keunggulan pada bidang tata busana, serta SMK Wisudha Karya Kudus yang fokus pada berbagai keahlian jasa. Ketiga sekolah tersebut merupakan SMK binaan Djarum Foundation dalam pengembangan pendidikan vokasi.

Mendag menjelaskan, kegiatan pitching dengan perwakilan perdagangan RI dapat membuka peluang ekspor jasa di berbagai sektor kreatif. Beberapa di antaranya seperti animasi, gim, niaga elektronik (e-commerce), hingga sektor desain grafis, kemasan, dan fesyen.

Ia menilai potensi ekspor jasa Indonesia masih sangat besar untuk dikembangkan. Berdasarkan data Bank Dunia dalam periode 2014–2023, kontribusi sektor jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia rata-rata mencapai 63,3 persen. Sementara di Indonesia, kontribusi sektor jasa baru sekitar 43,8 persen sehingga masih terdapat ruang yang luas untuk peningkatan.

Data Bank Indonesia juga mencatat nilai ekspor jasa Indonesia pada 2025 mencapai sekitar USD 42,80 miliar, yang menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan di masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi yang turut hadir menilai keberadaan sekolah vokasi dan balai latihan kerja (BLK) memiliki peran penting dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja di daerah.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 4.200 BLK yang mendukung peningkatan keterampilan tenaga kerja. Ia menyebutkan bahwa pada 2025, serapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Tengah mencapai hampir 470 ribu orang dengan nilai investasi mendekati Rp88 triliun yang didominasi sektor padat karya.

Sementara itu, Direktur Djarum Foundation, Primadi H. Serad, menekankan pentingnya kesiapan lulusan SMK agar mampu bersaing di dunia industri. Menurutnya, sektor animasi memiliki permintaan tinggi di pasar global, namun jumlah talenta yang tersedia masih terbatas.

“Animasi ini permintaannya sangat tinggi, tetapi suplainya masih sedikit. Karena itu, kami berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan menyiapkan talenta vokasi yang kompeten dari sisi infrastruktur, kualitas pengajar, hingga jaringan industri,” jelasnya.

Salah satu siswi SMK Raden Umar Said, Alika, mengaku tertarik mendalami bidang animasi karena ingin menjadi concept artist atau storyboard artist. Saat ini ia bahkan telah terlibat dalam proyek pembuatan mini series animasi untuk sebuah merek susu yang akan digunakan dalam kampanye Ramadan.

Sementara itu, karya para siswa SMK NU Banat Kudus juga telah dipasarkan hingga ke berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Italia, Prancis, hingga Hong Kong. Para siswa tidak hanya belajar teknik pembuatan busana, tetapi juga memahami tren fesyen agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing di pasar.

Di sekolah tersebut, Mendag juga mengajak para siswa untuk mengikuti berbagai kegiatan promosi yang diselenggarakan Kemendag, seperti Jakarta Muslim Fashion Week dan Trade Expo Indonesia, yang dapat menjadi wadah bagi desainer muda untuk mempresentasikan karya mereka sekaligus memperluas jaringan bisnis.

Selain itu, Mendag turut mengajak generasi muda untuk mendukung penggunaan produk dalam negeri melalui program Gerakan Kamis Pakai Lokal (GASPOL) yang diinisiasi Kemendag. Program ini bertujuan menumbuhkan kebanggaan terhadap produk lokal sekaligus memperkuat perekonomian domestik.

Ia berharap melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri, talenta-talenta vokasi dari Kudus dan berbagai daerah di Indonesia dapat semakin berkembang serta mampu bersaing di pasar global. (AS/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.