Mangkrak Bertahun-Tahun, Kios-kios di Terminal Wisata Colo Kudus Butuh Konsep Penataan Baru

oleh -430 Dilihat
Foto: Salah seorang mengecek kondisi kios di terminal Colo Kecamatan Dawe Kudus. (Foto: ist.)

Kudus, isknews.com – Kios-kios di kawasan Terminal Wisata Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, terus mengalami kemangkrakan dan membutuhkan konsep penataan baru agar kembali hidup. Sejak dibangun pada 2017, bangunan pasar bertingkat tersebut tidak pernah berfungsi optimal dan kini sebagian besar kios di lantai dua dan tiga terbengkalai tanpa penghuni.

Ketua Paguyuban Pasar Pemilik Kios dan Warung Desa Colo, Abdurrahman, menyampaikan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Setelah renovasi pada 2017, hanya beberapa pedagang yang pernah menempati kios di dalam gedung. Namun sejak 2018, lantai atas mulai ditinggalkan karena minimnya kunjungan pembeli.

“Kalau dibilang mangkrak, ya mangkrak. Kurang lebih dari 150 kios kini kosong,” ujarnya.

Bangunan pasar tersebut memiliki sekitar 150 kios, dengan lantai dua dan tiga masing-masing berisi sekitar 25 kios. Kini, hanya enam pedagang yang masih bertahan. Mayoritas memilih berjualan di luar bangunan, khususnya di area teras dan akses jalan yang sering dilewati wisatawan menuju kawasan wisata Colo.

Menurut Abdurrahman, pedagang sebenarnya pernah mengusulkan agar sebagian lahan pasar dijadikan area parkir, sebagaimana wacana pada pemerintahan sebelumnya. Namun, harapan itu tidak pernah terlaksana.

“Kami dulu berharap area bawah dimanfaatkan untuk parkir, tapi malah dibangun kios-kios baru,” katanya.

Salah satu faktor krusial penyebab pasar tidak diminati adalah akses bangunan yang dinilai tidak ramah pengunjung. Pengunjung harus naik dan turun untuk mencapai area dalam gedung, membuat wisatawan enggan masuk. Kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli justru banyak terjadi di lapak-lapak luar gedung.

Selain itu, pembangunan gedung pasar dinilai mempersempit area parkir. Kapasitas yang sebelumnya mampu menampung sekitar 50 kendaraan kini hanya muat 25–30 kendaraan.

“Kami tidak dilibatkan dalam perencanaan. Dari dulu hanya menerima gambar jadi dan sosialisasi. Pedagang berharap dilibatkan dalam konsep pembangunan jika ada rencana perbaikan,” tambahnya.

Pedagang berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh dan menghadirkan konsep baru yang lebih realistis. Desain pasar yang memungkinkan akses langsung dari area parkir ke dalam gedung dianggap sangat penting agar perekonomian kembali bergerak.

“Yang kami butuhkan bukan sekadar bangunan, tapi desain yang sesuai kondisi lapangan. Jika pasar ini terus dibiarkan, ekonomi Colo akan semakin mati,” tegas Abdurrahman.

Hingga kini, pedagang masih menunggu sosialisasi resmi terkait rencana pemerintah terhadap masa depan Terminal Wisata Colo. Mereka berharap adanya dialog terbuka agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan pedagang dan masyarakat sekitar. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :